Kategori: Tanya Jawab OpenSID

Terapkan e-Voting Pilkades, Pemprov Lampung Motivasi Peserta Webinar OpenDesa

Kepala Dinas PMDT Provinsi Lampung, Zaidirina Wardoyo S.E., M.Si.
Webinar : Kepala Dinas PMDT Provinsi Lampung, Dr. Zaidirina Wardoyo S.E., M. Si.,
saat menjadi narasumber webinar OpenDesa 22.05, Jumat(13/05/2022.

OpenDesa–Menjadi salah satu provinsi di pulau Sumatera yang sangat antusias dengan pemanfaatan teknologi digital, Pemerintah Provinsi Lampung bersama Kabupaten Pringsewu, bakal segera terapkan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di Delapan Kecamatan menggunakan basis data Sistem Informasi Desa Terbuka (OpenSID).

Hal itu diungkapkan, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Transmigrasi (PMDT) Provinsi Lampung, Zaidirina saat menjadi narasumber Webinar OpenDesa 22.05, dihadapan 190 peserta,  Jumat(13/5/2022) siang. Diwujudkannya langkah menuju Lampung Smart Village, memotivasi peserta webinar yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia. 

“Melaksanakan e-voting di 98 TPS pada 19 desa yang tersebar di Delapan kecamatan di Kabupaten Pringsewu bakal digelar 18 Mei tahun 2022 ini. Ini memanfaatkan data DPT dari Sistem Informasi Desa (SID) berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) KTP elektronik. Ini akan disaksikan dan akan menjadi percontohan bagi provinsi dan kabupaten kota lainnya di Indonesia,”harap, Zaidirina. 

Menjadi bagian upaya mensukseskan program Smart Village Provinsi Lampung, OpenSID yang dikembangkan para pegiat digitalisasi desa dari Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa), menjadi langkah nyata memaksimalkan kinerja menuju desa cerdas. 

“Saya sangat apresiasi dengan OpenSID, memiliki banyak suplemen data untuk kemudahan pelayanan. Sebut saja ada sistem keamanan, informasi publik, pengembangan lainnya sesuai kebutuhan desa dalam pelayanan publik dan pemerintahan. Bahkan terus dikembangkan untuk mendukung setiap kebutuhan desa dengan data yang validasinya akurat, cepat dan transparan,”tambah Kadis PMDT sedikit mengulas kemudahan menggunakan SID. 

Bahkan Provinsi Lampung juga mengembangkan lebih jauh pemanfaatan OpenSID melalui program Smart Village untuk Samsat Desa Elektronik (e-Samdes) hingga e-Bumdes dengan suplemen-suplemen yang sangat mendukung demi kemajuan desa memanfaatkan pengelolaan data dari sumber Sistem Informasi Desa.

”Bahkan dengan Program Smart Village sesuai arahan Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi, smart village juga menerapkan Kartu Petani Berjaya (KPB) sebagai wujud Sistem Pemerintahan Berbasis Elektonik (SPBE) untuk pengelolaan kebutuhan pertanian bagi petani,”sambung Zidirina.      

Mendengar pemaparan yang disampaikan Kepala Dinas PMDT Lampung, peserta Webinar OpenDesa 22.05 terlihat bersemangat ingin menerapkan aplikasi sumber terbuka (open Source) yang dimiliki OpenDesa. Aplikasi OpenSID umum yang bisa digunakan secara gratis ini, benar-benar dirancang untuk memajukan desa dengan Zero Cost.

Para peserta webinar OpenDesa dari berbagai provinsi semangat mempertanyakan bagaimana pengimplementasian OpenSID. Seperti yang ditanyakan, Saiful Rahmat dari Pamekasan, Jawa Timur, Bagus Setiawan dari Provinsi Jawa Barat dan Yuhefizar dari Provinsi Sumatera Barat. 

Dalam webinar OpenDesa yang mengusung tema “Mewujudkan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE)” ini, Kadis PMDT Provinsi Lampung, Zaidirina dan Davit Kurniawan dari OpenDesa yang merupakan Head Of Smart Village Program Smart Village Provinsi Lampung serta Narasumber Teknis OpenDesa, Yogi Perdana, menjelaskan dengan rinci bagaimana penerapan aplikasi sisitem informasi desa.(*)  

Menuju Prestasi Provinsi, Bupati Muaro Jambi Apresiasi OpenSID Mekarsari

Apresiasi : Bupati Muaro Jambi, Hj. Masnah Busro saat menyatakan apresiasi untuk Desa Mekarsari, Kecamatan Kumpeh yang mampu menerapkan kemajuan menggunkan Sistem Informasi Desa OpenSID menuju Desa Digital Cerdas dan Smart Village.

Muaro Jambi, OpenDesa–Berpacu menuju desa digital cerdas, Mekarsari, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, melaju pesat bersama Sistem Informasi Desa Terbuka (OpenSID). Aplikasi yang dikembangkan Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa) ini, mendapat apresiasi Bupati Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Masnah Busro.

Bergabung menjadi pengguna OpenSID sejak Juni 2021, Desa Mekarsari, Kecamatan Kumpeh, mampu memberikan yang terbaik untuk kinerja pemerintahan desa dan layanan publik. Sehingga dilirik sebagai salah satu desa digital yang cerdas dan membawa Desa Mekarsari meraih prestasi mulai dari Kecamatan Kumpeh hingga Kabupaten Muaro Jambi. 

Bahkan, bulan Mei ini diutus mewakili Kabupaten Muaro Jambi ke tingkat Provinsi Jambi. Mulai dari layanan data, administrasi kependudukan dan pelayanan administrasi publik mampu diwujudkan Desa Mekarsari.

“Kita apresiasi Pemerintah Desa Mekarsari yang telah sukses mengaplikasikan desa digital dan Smart Village yang diintegrasikan dengan pelayanan administrasi digital dan anjungan desa mandiri. Semoga ini bisa menjadi motivasi dan contoh bagi desa lainnya di Muaro Jambi dan Provinsi Jambi guna wujudkan desa digital,”ucap Hj. Masnah Busro Bupati yang membawahi sekitar 150 desa ini. 

Bersama Belasan ribu desa di Indonesia yang tergabung menjadi pengguna OpenSID, Mekarsari saat ini sudah bisa melayani masyarakat yang sudah memiliki ponsel berbasis Android, cukup dengan mengakses aplikasi dari genggaman untuk kebutuhan pengurusan administrasi yang dibutuhkan secara cepat. 

Bahkan bagi masyarakat di desa yang belum memiliki perangkat ponsel Android, Desa Mekar Sari juga sudah memiliki sebuah kotak pintar, Anjungan Desa Mandiri (ADM). Aplikasi yang terhubung secara online, menjadi model kemudahan pelayanan dan akses bagi masyarakat melalui website Desa Mekar Sari dengan alamat : https://mekarsari-kumpeh.desa.id.

“Saya tidak menyangka ada sistem yang sangat aplikatif untuk menciptakan desa lebih maju dalam hal teknologi informasi. Lengkap, mudah dan gratis lagi,”ucap Budi Saputra, Kepala Urusan (Kaur) Umum, Desa Mekarsari, Kecamatan Kumpeh yang sekaligus operator. 

Awalnya, kata Budi, dirinya bertekad untuk menciptakan desa menjadi desa digital. Bagaimana kemajuan teknologi informasi bisa dimanfaatkan untuk kemudahan pekerjaan dan pelayanan masyarakat, meski di daerah yang berada jauh dari pusat Kabupaten Muaro Jambi dan Provinsi Jambi. 

Sebelumnya, ada sistem informasi desa yang digunakan dan menjadi bagian dari program Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), Kabupaten Muaro Jambi, namun akhir-akhir ini, tidak lagi digunakan. Sebab dinilai membutuhkan biaya tinggi untuk pengaplikasiannya. 

OpenSID dari OpenDesa, menjawab semua kebutuhan desa. Sehingga mampu mencuri perhatian Desa Mekarsari hingga Kecamatan Kumpeh. Bahkan Camat Kumpeh, Dicky Ferdiansyah, sangat tertarik dengan apa yang dilakukan Desa Mekarsari dan mendukung penuh upaya yang tengah dilakukan dalam upaya digitalisasi desa. 

“Melihat Mekarsari mampu dengan cepat menyajikan data, melayani administrasi dengan mudah hingga berbagai keunggulan lainnya, membuat Mekarsari, Kumpeh jadi sorotan. Setidaknya 15 Desa dengan 1 Kelurahan di Kecamatan Kumpeh mulai antusias ingin menggunakan OpenSID untuk sistem informasi desa,”cerita Budi saat di wawancarai OpenDesa, Selasa(10/5) malam. 

Camat Kumpeh, Dicky Ferdiansyah yang juga sangat antusias dengan program pemanfaatan teknologi informasi digital ini, terdengar bersemangat agar OpenSID bisa aplikatif di semua desa yang ada di Jambi.

“Sepertinya, sejak Kabupaten Muaro Jambi mekar dari Kabupaten Batanghari sejak 1999 lalu, perlu memacu kemajuan melalui digitalisasi seperti yang sudah dilakukan Mekarsari,”ucap Camat yang juga mantan Kabid PMD Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kabupaten Muaro Jambi ini, Selasa malam.

Kecamatan pengguna Dashboard Kecamatan Terbuka (OpenDK) ini, berharap agar setiap alur administrasi bisa diringkas dari desa hingga kecamatan dengan sistem informasi saat ini. “Artinya, masyarakat bisa dengan mudah mengurus kepentingan administrasi lewat genggaman, tidak perlu buang waktu dan biaya untuk sebuah pengurusan,”harap Dicky Ferdiansyah. 

Di Penghujung diskusi singkat via panggilan paralel WhatsApp bersama OpenDesa, Kaur Umum Desa Mekarsari, Camat Kumpeh, Selasa malam, Dicky Ferdiansyah berharap Pemerintah Provinsi Jambi maupun Kabupaten Muaro Jambi bisa meningkatkan pembinaan, merapikan data dan mengintegrasikan pelayanan publik agar lebih ringkas. 

“Membina desa, memanfaatkan teknologi informasi digital saat ini, hingga pelayanan masyarakat menjadi lebih ringkas. Harapan untuk OpenDesa, agar bisa disediakan sistem yang bisa memangkas pengurusan administrasi dari desa hingga kecamatan. Sehingga masyarakat desa tidak perlu lagi repot harus ke kecamatan setelah kelengkapan administrasi lengkap di masing-masing desa,”harap Dicky Ferdiansyah.(*)  

OpenDesa Untuk Kita

OpenDesa–OpenDesa merupakan sebuah organisasi berbadan hukum perkumpulan sesuai SK Kemenkum HAM AHU-0000481.AH,01.07.TAHUN 2019 tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkumpulan Desa Digital Terbuka. Organisasi nirlaba yang didirikan ini, murni sebuah upaya sosial para pegiat digitalisasi untuk memajukan desa-desa di Indonesia. 

Upaya Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa) ditujukan untuk mewujudkan desa-desa cerdas dengan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mulai dari masyarakat desa. Sehingga tercipta masyarakat dan pemerintahan desa yang cerdas dalam pemanfaatan teknologi digital untuk kemajuan desa secara bersama. 

Sehingga muncul inisiatif dari para pegiat digitalisasi teknologi informasi dengan kemampuan yang dimiliki untuk disumbangkan bagi desa dalam pemanfaatan teknologi. Bagaimana menghadirkan kemudahan pelayanan dan keterbukaan informasi mulai dari desa dan masyarakatnya. 

Programmer para pengembang aplikasi dari seluruh Indonesia berkolaborasi menciptakan sistem pengelolaan pekerjaan pemerintah desa secara digital. Perkumpulan Desa Digital Terbuka ini melahirkan Sistem Informasi Desa Terbuka (OpenSID). OpenSID merupakan aplikasi yang didedikasikan untuk desa-desa secara gratis.

Berhasil menciptakan dan terus mengembangkan sistem informasi desa yang aplikatif, selain OpenSID, OpenDesa juga memiliki sistem informasi terbuka untuk Pemerintah Kecamatan yang disebut dengan Dashboard Kecamatan Terbuka (OpenDK). Aplikasi ini menjadikan pemerintah desa dan kecamatan bisa terkoneksi dalam satu sistem informasi terbuka. Sehingga memudahkan dalam akselerasi pencapaian tujuan pembangunan.

Jika ingin mengetahui lebih rinci produk OpenDesa seperti OpenSID dan OpenDK, simak pada artikel lainnya di https://opendesa.id/tentang-kami/.(*) 

Info OpenSID Hackathon 2022

OpenDesa – Hackathon merupakan kegiatan kompetisi pemrograman yang berlangsung untuk beberapa jam hingga beberapa hari. Kegiatan ini diselenggarakan OpenDesa untuk memperkenalkan ekosistem Sistem Informasi Desa Terbuka (openSID) kepada programmer indonesia. 

OpenSID salah satu sistem informasi desa yang paling banyak digunakan di indonesia dan bersifat opensource. Tidak hanya sistem informasi desa yang berdiri sendiri akan tetapi openSID juga sudah terintegrasi dengan openDK yang merupakan sistem informasi yang digunakan oleh pihak kecamatan. Sehingga informasi dari desa bisa terintegrasi dengan data yang dibutuhkan oleh kecamatan, ini merupakan langkah nyata openSID dengan visi sebagai rumah data bagi desa, 

Cara Mengikuti Hackaton

Peserta diwajibkan untuk mengikuti tahapan tahapan berikut :

  1. Melakukan pendaftaran peserta pada link ini : https://s.id/LKIR-
  2. Bergabung dengan grup pengembang bebas OpenSID : http://bit.ly/opendesa-umum
  3. Mengikuti sosialisasi pengetahuan teknis terkait pengembangan aplikasi openSID dan OpenDK yang akan dilakukan pada tanggal : 22 Januari hingga 23 Februari 2022 (lihat time line di bawah)
  4. Mulai mengerjaan issue yang telah disampaikan dan mengirim Pull Request sebanyak – banyak nya untuk menjadi pemenang

Hadiah Yang Ditawarkan Bagi pemenang

kami menawarkan 2,5jt untuk 1 orang pemenang berdasarkan keputusan dari panitia, pemenang adalah peserta yang berhasil mengirimkan pull requeset terbanyak dan di disetujui oleh admin berdasarkan kriteria yang sudah dibahas pada meeting teknis.(*)

Time Line Hackathon 2022

Pendaftaran : 22-28 Januari 2022

Briefing Teknis : 29 Jauari 2022

Pelaksanaan : 1-14 Februari 2022

Penilaian : 15-22 Februari 2022

Pengumuman Hasil : 23 Februari 2022

Tiga Desa di Kecamatan Talang Padang Antusias Pelatihan OpenSID

OpenSID : Peserta pelatihan OpenSID di Kecamatan Talang Padang, Kabupaten Tagamus, Provinsi Lampung foto bersama usai pelatihan, Sabtu(18/12/2021)

OpenDesa–Menuju desa cerdas di era digitalisasi dan Lampung Smart Village, Desa Suka Negeri, Desa Singosari dan Desa Sukabumi, antusias mengikuti pelatihan Sistem Informasi Desa (OpenSID). Pasalnya, aplikasi yang dikembangkan Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa) ini, diyakini menjadi salah satu sarana utama menuju Smart Village. 

Sesuai dengan visi menjadikan Provinsi Lampung Berjaya dibawah kepemimpinan, Gubernur Lampung, Ir. H. Arinal Djunaidi, butuh langkah nyata pemanfaatan teknologi informasi.Sebab   dalam misi keempat dari visi tersebut merujuk pada mengembangkan infrastruktur guna meningkatkan efisiensi produksi dan konektivitas wilayah atau menuju Lampung Smart Village. 

“Kita dari Desa Merbau serta Desa, Sukabumi dan Singosari, menggelar pelatihan OpenSID. Ini mengikuti jejak belasan ribu desa lainnya di Nusantara untuk lebih mengoptimalkan teknologi informasi untuk kinerja pemerintahan desa,”ucap Kepala Urusan Keuangan Desa Merbau, Komarullah kepada OpenDesa, via pesan WhatsApp Jumat(24/12) siang .

Pelatihan Sistem Informasi Desa OpenSID ini, kata Komarullah, sekaligus sosialisasi tentang program Smart Village Provinsi Lampung. Pelatihan yang diikuti para perangkat nagari ini  digelar di Pekon Singosari, Kecamatan Talang Padang, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, Sabtu(18/12/2021).(*)

Dua Kecamatan di Bone Antusias Ikut Pelatihan OpenSID

Antusias : Tiga Puluh orang peserta dari Kecamatan Sibulue dan Ulaweng, Kabupaten Bone,  Provinsi Sulawesi Selatan antusias mengikuti pelatihan pemanfaatan Sistem Informasi Desa Terbuka (OpenSID)yang dikembangkan komunitas Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa), Jumat hingga Sabtu (3-4/12/2021) lalu.

Bone, OpenDesa–Sedikitnya 30 orang dari 9 Desa di Kecamatan Sibulue dan Ulaweng, Kabupaten Bone,  Provinsi Sulawesi Selatan, antusias mengikuti pelatihan pemanfaatan Sistem Informasi Desa Terbuka (OpenSID). Aplikasi yang dikembangkan komunitas Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa) ditransfer via pelatihan sepanjang Jumat hingga Sabtu (3-4/12/2021) ini. 

“Kita bersama sejumlah teman-teman dari desa  di Kecamatan Sibulue dan Ulewang melaksanakan pelatihan OpenSID selama dua hari. Digelar secara sederhana saja. Kita berbagi pengalaman selama menggunakan OpenSID sejak Tiga tahun terakhir,”tutur Kepala Desai(Kades) Bana, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone, Ishak Boca, beberapa waktu lalu.   

Kades yang juga pegiat OpenDesa di Kabupaten  Bone  tersebut, merupakan salah satu tokoh yang sangat terbuka untuk kemajuan desa dan dengan cepat mengadopsi teknologi  informasi guna mempermudah kinerja aparatur dalam pemerintahan desa dan pelayanan optimal bagi masyarakat.

“Desa Bana, merupakan salah satu desa yang berada di pelosok Kabupaten Bone. Tempatnya terpencil di sudut kabupaten. Inilah yang menjadi motivasi utama bagi kami di Desa Bana untuk bisa terhubung dengan dunia luar dan melek informasi. Sehingga di tahun 2018 lalu, kita putuskan untuk bergabung dengan OpenDesa dan memanfaatkan sistem informasi desa yang dikembangkan anggota komunitas ini,”ucap   

Melihat manfaat dan progresifitas Desa Bana dalam hal teknologi informasi sebagai penunjang geliat pembangunannya, menjadi motivasi bagi sejumlah desa. Sehingga memunculkan rasa ingin tahu desa lainnya di Kabupaten Bone. 

“Atas motivasi inilah, saya sebagai Kepala Desa yang telah menerapkan penggunaan OpenSID di pemerintahan desa, berbagi pengalaman bersama teman-teman dari desa lainnya dari Kecamatan  Sibulue dan Ulaweng yang diwakili sebanyak Sembilan desa di dua kecamatan itu dengan peserta sebanyak 30 orang,”ucap Ishak Boca. 

Menggunakan aplikasi OpenSID secara gratis hingga beralih menjadi pengguna premium dan memiliki layanan Anjungan Desa Mandiri (ADM), kemajuan desa kian terasa seiring kemajuan teknologi saat ini.”Semoga semua desa di Indonesia bisa menerapkan sistem informasi untuk pembangunan desa dan masyarakat yang cerdas,”harap Kades Bana ini.(*)   

Ini Kata Sejumlah Desa Pemanfaat OpenSID

 

Foto : ilustrasi

OpenDesa–Sederet manfaat penggunaan teknologi Sistem Informasi Desa (SID) yang dikembangkan Desa Digital  Terbuka (OpenDesa), telah dirasakan. Kemudahan dalam melaksanakan pekerjaan pemerintahan desa, seperti yang disampaikan sejumlah pengguna OpenSID. 

Seperti yang diutarakan Kepala Urusan Keuangan, Desa Merbau, Kecamatan Kelumbayan Barat, Provinsi Lampung, Komarulloh.  Menurutnya, sejak memanfaatkan OpenSID sebagai alat bantu utama dalam  pekerjaan pemerintahan desa, manfaat dan kemudahannya sangat kentara. Tidak hanya aparatur pemerintahan, tapi juga masyarakat. 

“Administrasi Desa menjadi tertata secara Digital, informasi tentang kegiatan pemerintahan desa bisa diketahui oleh masyarakat. Kemudian layanan surat mudah di akses. Masih banyak lagi keunggulan-keunggulannya yang ada pada sistem OpenSID. Ayo bagi Desa, Kelurahan gunakan OpenSID sekarang juga,”ajak Komarrulloh. 

Manfaat yang sama juga dirasakan, Desa Cilapar, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah. Meski baru Satu bulan terdaftar menjadi pengguna, Desa Cilapar sudah mampu melayani masyarakat secara optimal menggunakan OpenSID.  

“Di Desa kami kurang lebih baru 1 bulan memakai OpenSID dan tentunya dengan adanya OpenSID sangat membantu dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Namun demikian diperlukan pengembangan untuk kesempurnaannya,”tulis pemilik akun facebook Isman’t Lampisan, Desa Cilapar. 

Pemilik akun  facebook Isman’t Lampisan yang tergabung dalam group Pengguna dan Pegiat OpenSID ini, juga melemparkan sebuah usulan agar pada menu Siaga covid-19 untuk bisa ditambahkan menu arsip atau arsip kegiatan mengingat pandemi covid-19 bisa dijadikan history untuk generasi mendatang. 

Semnatara dari Sulawesi Tengah, Ahmad Budullah mengucapkan Selamat buat OpenSID,”Kami dari Banggai Kepulauan, lagi berjuang agar bisa MoU dengan Pemerintah Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi  Tengah untuk OpenSID ini,”ucapnya. 

Hingga saat ini, sedikitnya 13.000 Desa sudah memanfaatkan aplikasi  OpenSID yang dikembangkan Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa).

”Desa dari Sabang sampai  Merauke, dari Utara hingga Selatan, sudah 13 ribu desa di Indonesia, memanfaatkan OpenSID.  Diaspora Indonesia di seluruh dunia juga mendukung dan akan mengangkat desa binaan dan memasangkan OpenSID sebagai upaya peduli Indonesia dengan membangun desa,”ucap Ketua Dewan Pembina OpenDesa, Eddie Ridwan.(*) 

Lomba Tema OpenSID

OpenDesa–Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa) saat ini, menggelar kegiatan lomba dengan tema “Semangat Komunitas Dalam Membangun Desa Cerdas” untuk pembuatan Tema OpenSID yang akan digunakan sebagai tema bawaan OpenSID.

Hadiah sebesar Rp 1.500.000, akan menjadi hak pemenang lomba dengan syarat, tema yang dikirim menjadi milik OpenDesa dan OpenDesa berhak menentukan lisensi pada tema tersebut selanjutnya.

Silahkan kirim hasil karya pembuatan Tema OpenSID ke tautan berikut.

Mengapa OpenSID Gratis ?

OpenSID dikembangkan dengan prinsip terbuka yang berarti dikembangkan bersama oleh pegiat atau komunitas OpenSID. Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait lisensi OpenSID, yaitu :

  1. GRATIS dan Mudah Diperoleh.
  2. OpenSID berlisensi GPL V3, yang membolehkan pihak ketiga untuk mengubah dan juga mengkomersilkan.
  3. Tetapi setiap ubahan juga OTOMATIS berlisensi GPL V3, karena lisensi ini melekat.
  4. Kalau desa sudah terlanjur menggunakan versi ubahan yang berbayar, desa dapat mengirim script aplikasi ubahan itu ke OpenDesa, supaya fitur tambahan yang diperlukan desa dapat dimasukkan ke rilis resmi OpenSID, dengan demikian desa bisa beralih kembali ke versi OpenSID yang gratis.
  5. Perlu diingat, pihak ketiga yang menghilangkan tanda-tanda OpenSID di aplikasi ubahan mereka, telah menyalahi lisensi serta tidak MENGHARGAI upaya gotong royong komunitas untuk mengembangkan OpenSID untuk manfaat bersama.

Karena itu, mari kita perangi dan sadarkan pihak-pihak yang dengan sengaja mengubah atau memodifikasi OpenSID dan menghilangkan identitas OpenSID demi kepentingan sendiri.

Mari kita jaga marwah Aplikasi Terbuka OpenSID

Apakah aplikasi OpenSID boleh dikembangkan secara bebas oleh pihak kedua?

OpenSID berlisensi GPL V3. Lisensi ini membolehkan siapa saja mengubah aplikasi OpenSID. Tapi perlu diperhatikan bahwa lisensi GPL V3 melekat. Yaitu, setiap ubahan OpenSID juga berlisensi GPL V3. Dengan demikian, siapapun yang menerima aplikasi ubahan teresebut, melalui cara apapun (berbayar atau tidak), berhak, tanpa perlu minta izin kepada siapapun, untuk memberikan source code aplikasi ubahan tersebut kepada siapa saja.

Seandainya aplikasi ubahan yg ingin dikembangkan adalah sistem informasi desa juga, kami menganjurkan dengan SANGAT agar bekerjasama saja dengan OpenDesa, supaya tidak membingungkan desa2 pengguna. Pengguna aplikasi ubahan akan terkunci pada versi OpenSID yg diubah dan akan selamanya tergantung pada pengembang aplikasi ubahan tersebut.

Desa pengguna akan mengalami kesulitan memanfaatkan versi baru OpenSID yg gratis dirilis setiap tgl 1, karena akan bentrok dengan perubahan yg telah dibuat di aplikasi ubahan tersebut. Desa pengguna aplikasi ubahan juga tidak akan dapat memanfaatkan dukungan komunitas pengguna OpenSID terkait fitur ubahan yg mereka gunakan.

Pihak yg menjual sistem informasi desa ubahan OpenSID ke desa, walaupun tidak menyalahi lisensi, sebenarnya bertindak tidak etis karena memperdayakan desa — dan juga menyebabkan terjadinya penggunaan dana publik yang tidak optimal.

Dengan bekerjasama dengan OpenDesa, fitur tambahan selalu dimasukkan ke rilis resmi OpenSID, sehingga desa pengguna akan mudah update ke rilis baru. Selain itu, semua desa pengguna lainnya juga akan dapat memanfaatkan fitur tambahan tersebut.