OpenSID Sosialisasikan Fitur Baru 22.01 Peningkatan Layanan Warga

Sosialisasi : Sosialisasi fitur baru rillis OpenSID 01.22 Peningkatan Layanan Warga

OpenDesa–Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa) sosialisasikan pengembangan fitur-fitur terbaru pemanfaatan layanan bagi warga. Sosialisasi virtual yang sebelumnya bernama Tanya Jawab rilis, menjadi sumber informasi penting bagi pengguna dan calon pengguna OpenDesa.

Sosialisasi, Jumat (7/1/022) malam tersebut, menghadirkan pegiat OpenDesa, Andi Fahruddin Akas dan Davit Kurniawan. Menjadi agenda penting, sosialisasi bulanan ini merupakan wadah bagi pengguna maupun calon pengguna OpenDesa untuk mengetahui fitur-fitur terbaru menuju desa digital cerdas dan keterbukaan informasi publik. 

Andi Fahrudin Akas memaparkan, produk OpenDesa, mulai dari Sistem Informasi Desa Terbuka (OpenSID) untuk desa dan Sistem Informasi Dashboard Kecamatan  (OpenDK) ntuk kecmatan.

“Pengguna OpenSID mobile bisa melakukan akses via telepon pintar. Selanjutnya pengembangan layanan aplikasi, Posyandu dan Stunting yang terintegrasi dengan sumber data OpenSID, juga sedang dikembangkan”ucap Andi Fahruddin Akas. 

OpenDesa makin produktif untuk layani masyarakat, bahkan pengguna juga sudah bisa memanfaatkan layanan lapak untuk membantu warga agar bisa melakukan transaksi jual beli pada fitur lapak. Bisa diunduh, dengan syarat pengguna OpenSID premium. Fitur aplikasi mobile ini hampir sama dengan yang ditampilkan web, seperti data penerima bantuan misalnya,”terang Akas.

Tidak Itu saja, fitur pengaduan juga dikembangkan dan bisa diakses secara langsung oleh masyarakat umum dari desa maupun dari luar desa. “Itulah beberapa fitur baru yang dikembangkan OpenDesa saat ini. Ini informasi umum yang bisa kita paparkan,”tutup Akas. 

Pada kesempatan yang sama, pegiat OpenDesa, David Kurniawan menghimbau, desa-desa yang ada di Indonesia harus mengetahui lebih jauh manfaat dari produk-produk yang dikembangkan para pegiat OpenDesa. Produk-produk yang disediakan secara gratis ini sangat disayangkan jika tidak bisa dimanfaatkan. Padahal sangat membantu desa lebih cepat memajukan desa dalam pemanfaatan teknologi informasi. 

“OpenDesa tidak berafiliasi pada organisasi apapun, sehingga pengembangannya hanya berorientasi untuk memajukan desa dengan fitur-fitur yang dirancang secara efektif. Hanya saja masih ada desa yang belum mau menerima manfaat ini. Padahal kita sangat butuh bantuan teknologi untuk bergerak lebih cepat di Desa. Namun kabar baik dan contoh baiknya bisa kita lihat di Provinsi Lampung. Saat ini Lampung sepakat untuk menuju Smart Village dengan pemanfaatan digitalisasi,”ucap David yang juga pegiat Smart Village Provinsi Lampung ini.

Sejalan dengan rencana secara nasional, untuk mengintegrasikan pemerintahan melalui pemanfaatan teknologi informasi. ”Bila ingin mengembangkan wisata, ekonomi, e-commerce, bisa maju bersama OpenDesa lewat penggunaan aplikasi yang terus dikembangkan,”ajak Davit Kurniawan, pegiat Opendesa yang berdarah Minang ini. 

Aplikasi perlu dikembangkan secara berkelanjutan dan harus terus diperbaharui. Bahkan saat ini, kata Davit, ada pembicaraan secara nasional terkait Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) dan metadata.”Kedepan bukan tidak mungkin, kita di OpenDesa yang akan menjadi salah satu penggeraknya. Misalnya dengan Meta Desa atau sebagainya. Saran saya utus satu orang untuk bisa mengikuti keberlangsungan OpenDesa,”harap Davit. 

Kesinambungan perbaikan tata laksana pemerintahan desa melalui teknologi informasi menjadi jaminan keberlangsungan OpenSID ini. sehingga perlu dibangun dengan model ekosistem seperti yang saat ini dilakukan OpenDesa. Caranya, berkontribusi bersama, lakukan pembaharuan dan terus bergerak dinamis melahirkan ide-ide baru melayani dan melahirkan fitur-fitur terbaru sesuai kebutuhan. 

“Kemudian soal asas OpenDesa, secara umum kita merupakan gerakan sosial dan nirlaba. Tdak berorientasi pada keuntungan secara pribadi, sebab aplikasi disediakan gratis. Namun memang ada fitur premium sebagai wujud upaya penggalangan dana untuk kebutuhan kelangsungan pegembangan. Wajar ada cost untuk mengembangkan aplikasi yang lebih baik. Sehingga juga akan memberi manfaat bagi kita semua, pengguna maupun pengembang untuk terus berkarya,”papar David Kurniawan. 

Mewujudkan desa Indonesia yang tersambung secara digital ini, sebentar lagi akan bisa terwujud. Sebab saat ini, pengguna terus bertambah dengan minimal 10 desa perhari.

”OpenDesa semakin besar setiap hari dan akan bisa menghubungkan satu desa dengan desa lainnyadi nusantara. Ini akan menjadi wadah untuk saling berbagi informasi. Inilah alasan, kenapa kita harus bergabung dan bergerak bersama untuk mewujudkan kemajuan desa melalui digitalisasi. OpenDesa, terus mengembangkan kebutuhan aplikasi untuk desa ,”pungkas David Kurniawan.(*)

Titian Kuala Wujudkan Desa Masa Depan dengan Anjungan Desa Mandiri

ADM : Anjungan Desa Mandiri (ADM) Desa Titian Kuala, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, sedang memasang perangkat ADM

OpenDesa, Kalbar–Bergerak maju untuk optimalisasi pelayanan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi informasi, Desa Titian Kuala pasang Anjungan Desa Mandiri (ADM) di Kantor Desa. Pelayanan administrasi cepat dengan data akurat bisa diakses masyarakat secara mandiri. 

Meski berada di pedesaan yang jauh dari pusat ibu kota kabupaten, Desa Titian Kuala, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, menjadi salah satu desa informatif dan inovatif yang bergabung bersama Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa) sejak tahun 2019 silam.  

Berjarak sekitar 158 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Kapuas Hulu, Desa Titian Kuala, bertekad memanfaatkan teknologi informasi secara maksimal menggunakan Sistem Informasi Desa Terbuka (OpenSID). Sehingga sejak tahun 2019 lalu, Desa Titian Kuala, sudah melaju untuk pelayanan maksimal dan kinerja yang handal memanfaatkan teknologi informasi. 

Terlihat postingan video salah seorang pegiat OpenDesa melalui akun Facebook milik Soptian Hadi pada Group Pegiat dan Pengguna OpenSId Dua orang tengah menggotong perangkat ADM.”Alhamdulillah Datang dengan selamat. Satu-satunya anjungan layanan mandiri di Provinsi Kalbar. Colek Ai Skematik Rohman Mukomuko Forum Pengguna dan Pegiat OpenSID,”tulis Soptian Hadi, Selasa(11/1).

“Desa Titian Kuala, awal mulanya kita 2019 mengenal OpenSID lewat kawan salah seorang pegiat, ketika selama Tiga hari kami berada di Desa Miau Merah, Kecamatan Silat Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, sambil belajar dan silaturahmi. Sejak saat itu hingga pertengahan tahun 2021 masih  menggunakan fitur umum,”terang Soptian Hadi yang merupakan Kepala Desa Titian Kuala, Kamis(13/1/2022) pagi. 

Berawal dari situlah, Desa Titian Kuala menjadi pengguna OpenSID umum hingga premium. Motivasi Desa Titian Kuala untuk memajukan desa diwujudkan dengan pemanfaatan teknologi. 

“Kita ingin memajukan desa lewat pemanfaatan teknologi dan informasi. Menggunakan OpenSID,  karena ingin melakukan tata kelola data desa yang lebih baik dan efisien, ingin melayani warga lebih cepat,”ucap Kades Titian Kuala, Soptian Hadi S.H.I ini.

Merasakan kemudahan dan manfaat penggunaan fitur-fitur OpenSID, Desa Titian Kuala melakukan upgrade aplikasi menggunakan menggunakan OpenSID Premium.

“Biar lebih cepat mendapatkan fitur baru sehingga lebih cepat dimanfaatkan. Selain itu untuk membantu berkontribusi dalam pengembangan OpenSID sehingga dapat dimanfaatkan oleh ribuan desa di indonesia yang masih menggunakan opensid umum,”tambah Kades Titian Kuala. 

Saat ini, Desa Titian Kuala sudah memiliki anjungan mandiri untuk optimalisasi pelayanan publik. Sehingga warga dengan mudah bisa cetak surat secara mandiri sesuai kebutuhan administrasi masing-masing. 

“Kita menggunakan anjungan sebagai upaya untuk melakukan keterbukaan informasi publik.  Sehingga dengan adanya anjungan layanan mandiri, masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi dan mendapatkan pelayanan secara mandiri,”tutup Kades inovatif ini.(*)

Info OpenSID Hackathon 2022

OpenDesa – Hackathon merupakan kegiatan kompetisi pemrograman yang berlangsung untuk beberapa jam hingga beberapa hari. Kegiatan ini diselenggarakan OpenDesa untuk memperkenalkan ekosistem Sistem Informasi Desa Terbuka (openSID) kepada programmer indonesia. 

OpenSID salah satu sistem informasi desa yang paling banyak digunakan di indonesia dan bersifat opensource. Tidak hanya sistem informasi desa yang berdiri sendiri akan tetapi openSID juga sudah terintegrasi dengan openDK yang merupakan sistem informasi yang digunakan oleh pihak kecamatan. Sehingga informasi dari desa bisa terintegrasi dengan data yang dibutuhkan oleh kecamatan, ini merupakan langkah nyata openSID dengan visi sebagai rumah data bagi desa, 

Cara Mengikuti Hackaton

Peserta diwajibkan untuk mengikuti tahapan tahapan berikut :

  1. Melakukan pendaftaran peserta pada link ini : https://s.id/LKIR-
  2. Bergabung dengan grup pengembang bebas OpenSID : http://bit.ly/opendesa-umum
  3. Mengikuti sosialisasi pengetahuan teknis terkait pengembangan aplikasi openSID dan OpenDK yang akan dilakukan pada tanggal : 22 Januari hingga 23 Februari 2022 (lihat time line di bawah)
  4. Mulai mengerjaan issue yang telah disampaikan dan mengirim Pull Request sebanyak – banyak nya untuk menjadi pemenang

Hadiah Yang Ditawarkan Bagi pemenang

kami menawarkan 2,5jt untuk 1 orang pemenang berdasarkan keputusan dari panitia, pemenang adalah peserta yang berhasil mengirimkan pull requeset terbanyak dan di disetujui oleh admin berdasarkan kriteria yang sudah dibahas pada meeting teknis.(*)

Time Line Hackathon 2022

Pendaftaran : 22-28 Januari 2022

Briefing Teknis : 29 Jauari 2022

Pelaksanaan : 1-14 Februari 2022

Penilaian : 15-22 Februari 2022

Pengumuman Hasil : 23 Februari 2022

Tiga Desa di Kecamatan Talang Padang Antusias Pelatihan OpenSID

OpenSID : Peserta pelatihan OpenSID di Kecamatan Talang Padang, Kabupaten Tagamus, Provinsi Lampung foto bersama usai pelatihan, Sabtu(18/12/2021)

OpenDesa–Menuju desa cerdas di era digitalisasi dan Lampung Smart Village, Desa Suka Negeri, Desa Singosari dan Desa Sukabumi, antusias mengikuti pelatihan Sistem Informasi Desa (OpenSID). Pasalnya, aplikasi yang dikembangkan Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa) ini, diyakini menjadi salah satu sarana utama menuju Smart Village. 

Sesuai dengan visi menjadikan Provinsi Lampung Berjaya dibawah kepemimpinan, Gubernur Lampung, Ir. H. Arinal Djunaidi, butuh langkah nyata pemanfaatan teknologi informasi.Sebab   dalam misi keempat dari visi tersebut merujuk pada mengembangkan infrastruktur guna meningkatkan efisiensi produksi dan konektivitas wilayah atau menuju Lampung Smart Village. 

“Kita dari Desa Merbau serta Desa, Sukabumi dan Singosari, menggelar pelatihan OpenSID. Ini mengikuti jejak belasan ribu desa lainnya di Nusantara untuk lebih mengoptimalkan teknologi informasi untuk kinerja pemerintahan desa,”ucap Kepala Urusan Keuangan Desa Merbau, Komarullah kepada OpenDesa, via pesan WhatsApp Jumat(24/12) siang .

Pelatihan Sistem Informasi Desa OpenSID ini, kata Komarullah, sekaligus sosialisasi tentang program Smart Village Provinsi Lampung. Pelatihan yang diikuti para perangkat nagari ini  digelar di Pekon Singosari, Kecamatan Talang Padang, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, Sabtu(18/12/2021).(*)

Dua Kecamatan di Bone Antusias Ikut Pelatihan OpenSID

Antusias : Tiga Puluh orang peserta dari Kecamatan Sibulue dan Ulaweng, Kabupaten Bone,  Provinsi Sulawesi Selatan antusias mengikuti pelatihan pemanfaatan Sistem Informasi Desa Terbuka (OpenSID)yang dikembangkan komunitas Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa), Jumat hingga Sabtu (3-4/12/2021) lalu.

Bone, OpenDesa–Sedikitnya 30 orang dari 9 Desa di Kecamatan Sibulue dan Ulaweng, Kabupaten Bone,  Provinsi Sulawesi Selatan, antusias mengikuti pelatihan pemanfaatan Sistem Informasi Desa Terbuka (OpenSID). Aplikasi yang dikembangkan komunitas Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa) ditransfer via pelatihan sepanjang Jumat hingga Sabtu (3-4/12/2021) ini. 

“Kita bersama sejumlah teman-teman dari desa  di Kecamatan Sibulue dan Ulewang melaksanakan pelatihan OpenSID selama dua hari. Digelar secara sederhana saja. Kita berbagi pengalaman selama menggunakan OpenSID sejak Tiga tahun terakhir,”tutur Kepala Desai(Kades) Bana, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone, Ishak Boca, beberapa waktu lalu.   

Kades yang juga pegiat OpenDesa di Kabupaten  Bone  tersebut, merupakan salah satu tokoh yang sangat terbuka untuk kemajuan desa dan dengan cepat mengadopsi teknologi  informasi guna mempermudah kinerja aparatur dalam pemerintahan desa dan pelayanan optimal bagi masyarakat.

“Desa Bana, merupakan salah satu desa yang berada di pelosok Kabupaten Bone. Tempatnya terpencil di sudut kabupaten. Inilah yang menjadi motivasi utama bagi kami di Desa Bana untuk bisa terhubung dengan dunia luar dan melek informasi. Sehingga di tahun 2018 lalu, kita putuskan untuk bergabung dengan OpenDesa dan memanfaatkan sistem informasi desa yang dikembangkan anggota komunitas ini,”ucap   

Melihat manfaat dan progresifitas Desa Bana dalam hal teknologi informasi sebagai penunjang geliat pembangunannya, menjadi motivasi bagi sejumlah desa. Sehingga memunculkan rasa ingin tahu desa lainnya di Kabupaten Bone. 

“Atas motivasi inilah, saya sebagai Kepala Desa yang telah menerapkan penggunaan OpenSID di pemerintahan desa, berbagi pengalaman bersama teman-teman dari desa lainnya dari Kecamatan  Sibulue dan Ulaweng yang diwakili sebanyak Sembilan desa di dua kecamatan itu dengan peserta sebanyak 30 orang,”ucap Ishak Boca. 

Menggunakan aplikasi OpenSID secara gratis hingga beralih menjadi pengguna premium dan memiliki layanan Anjungan Desa Mandiri (ADM), kemajuan desa kian terasa seiring kemajuan teknologi saat ini.”Semoga semua desa di Indonesia bisa menerapkan sistem informasi untuk pembangunan desa dan masyarakat yang cerdas,”harap Kades Bana ini.(*)   

Ini Kata Sejumlah Desa Pemanfaat OpenSID

 

Foto : ilustrasi

OpenDesa–Sederet manfaat penggunaan teknologi Sistem Informasi Desa (SID) yang dikembangkan Desa Digital  Terbuka (OpenDesa), telah dirasakan. Kemudahan dalam melaksanakan pekerjaan pemerintahan desa, seperti yang disampaikan sejumlah pengguna OpenSID. 

Seperti yang diutarakan Kepala Urusan Keuangan, Desa Merbau, Kecamatan Kelumbayan Barat, Provinsi Lampung, Komarulloh.  Menurutnya, sejak memanfaatkan OpenSID sebagai alat bantu utama dalam  pekerjaan pemerintahan desa, manfaat dan kemudahannya sangat kentara. Tidak hanya aparatur pemerintahan, tapi juga masyarakat. 

“Administrasi Desa menjadi tertata secara Digital, informasi tentang kegiatan pemerintahan desa bisa diketahui oleh masyarakat. Kemudian layanan surat mudah di akses. Masih banyak lagi keunggulan-keunggulannya yang ada pada sistem OpenSID. Ayo bagi Desa, Kelurahan gunakan OpenSID sekarang juga,”ajak Komarrulloh. 

Manfaat yang sama juga dirasakan, Desa Cilapar, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah. Meski baru Satu bulan terdaftar menjadi pengguna, Desa Cilapar sudah mampu melayani masyarakat secara optimal menggunakan OpenSID.  

“Di Desa kami kurang lebih baru 1 bulan memakai OpenSID dan tentunya dengan adanya OpenSID sangat membantu dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Namun demikian diperlukan pengembangan untuk kesempurnaannya,”tulis pemilik akun facebook Isman’t Lampisan, Desa Cilapar. 

Pemilik akun  facebook Isman’t Lampisan yang tergabung dalam group Pengguna dan Pegiat OpenSID ini, juga melemparkan sebuah usulan agar pada menu Siaga covid-19 untuk bisa ditambahkan menu arsip atau arsip kegiatan mengingat pandemi covid-19 bisa dijadikan history untuk generasi mendatang. 

Semnatara dari Sulawesi Tengah, Ahmad Budullah mengucapkan Selamat buat OpenSID,”Kami dari Banggai Kepulauan, lagi berjuang agar bisa MoU dengan Pemerintah Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi  Tengah untuk OpenSID ini,”ucapnya. 

Hingga saat ini, sedikitnya 13.000 Desa sudah memanfaatkan aplikasi  OpenSID yang dikembangkan Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa).

”Desa dari Sabang sampai  Merauke, dari Utara hingga Selatan, sudah 13 ribu desa di Indonesia, memanfaatkan OpenSID.  Diaspora Indonesia di seluruh dunia juga mendukung dan akan mengangkat desa binaan dan memasangkan OpenSID sebagai upaya peduli Indonesia dengan membangun desa,”ucap Ketua Dewan Pembina OpenDesa, Eddie Ridwan.(*) 

Lomba Tema OpenSID

OpenDesa–Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa) saat ini, menggelar kegiatan lomba dengan tema “Semangat Komunitas Dalam Membangun Desa Cerdas” untuk pembuatan Tema OpenSID yang akan digunakan sebagai tema bawaan OpenSID.

Hadiah sebesar Rp 1.500.000, akan menjadi hak pemenang lomba dengan syarat, tema yang dikirim menjadi milik OpenDesa dan OpenDesa berhak menentukan lisensi pada tema tersebut selanjutnya.

Silahkan kirim hasil karya pembuatan Tema OpenSID ke tautan berikut.

Ini Inovasi Desa Taopa yang Diharapkan Kemendagri Jadi Motivasi Desa Lainnya

Kemendagri RI : Desa Taopa dan Desa Kota Raya saat presentasikan pemanfaatan aplikasi OpenSID dan manfaatnya untuk kinerja Pemdes dan pelayanan publik yang optimal bagi masyarakat desa di Lantai II Gedung Kemendagri RI, Jakarta, Jumat(1/10/2021)
Kemendagri RI : Desa Taopa dan Desa Kota Raya, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, saat presentasikan pemanfaatan aplikasi OpenSID dan manfaatnya untuk kinerja Pemdes dan pelayanan publik yang optimal bagi masyarakat desa di Lantai II Gedung Kemendagri RI, Jakarta, Kamis(30/09/2021)

OpenDesa–Mampu berinovasi untuk pemanfaatan teknologi informasi menuju desa digital, Desa Taopa, Kecamatan Taopa, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, presentasikan pemanfaatan dan penggunaan aplikasi Sistem Informasi Desa Terbuka (OpenSID) di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kamis(30/9).  

Diterima Kepala Sub Bidang Kewenangan Desa (Kasubdit KD) Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa (Dirjen BPD) Kementerian Dalam Negeri RI, Satrio Gunawan, Pemdes Taopa yang didampingi Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) dan Badan Penelitian Pengembangan Daerah (Bapelitbangda) Kabupaten Parigi Moutong, presentasikan pengembangan inovasi desa digital yang membantu memudahkan pekerjaan Pemerintahan desa (Pemdes) sekaligus memaksimalkan pelayanan publik. 

“Saya sangat bersyukur sekali dengan perhatian terhadap inovasi desa menuju desa digital dan menjadi perhatian serius Bapelitbang dan PMD Kabupaten Parigi Moutong.  Ini sudah mewakili desa, ini kan baru dua desa, kedepannya kita harus  memiliki pedoman dan aturan untuk pengembangan aplikasi sistem ini,” ungkap Kasubdit KD, Ditjen BPD Kemendagri, Satrio Gunawan.  

Pemanfaatan sistem aplikasi untuk inovasi menuju desa digital yang tengah digunakan oleh Desa Taopa ini, menjadi motivasi bagi desa lainnya untuk terus berinovasi memajukan desa dan pelayanan maksimal bagi masyarakat.

”Taopa dan Desa Kota Raya Selatan, merupakan dua desa yang diterima Kemendagri untuk hal inovasi aplikasi. Kedepannya ini mudah-mudahan menjadi pemicu semangat bagi desa lainnya untuk  mengembangkan sistem seperti ini,”ucap Satrio Gunawan dihadapan Sekretaris Dinas PMD Kabupaten Parigi Moutong, Ervian S. Stp, Kabid Litbang Bapelitbangda,  Sekretaris Desa Taopa Abdul Haris Laparako di  Lantai II Kemendagri RI, Kamis(30/9).   

Usai mendengar pemaparan dari Sekretaris Desa Taopa Abdul Haris Laparako, Sekretaris Dinas PMD Kabupaten Parigi Moutong, Ervian yang menjadi pimpinan rombongan menyebutkan, Taopa merupakan salah satu dari hampir 7000 desa  di Indonesia yang menggunakan aplikasi OpenSID secara aktif dan Desa Taopa telah menggunakan OpenSID Premium.  

“Biaya pemanfaatan aplikasi ini hanya sekitar Rp 1 juta per tahun. Pada 14 Oktober ini, kami akan launching pemanfaatan  Anjungan Desa Mandiri (ADM), nantinya masyarakat bisa secara mandiri menggunakan pelayanan, surat yang dibutuhkan bisa di print out langsung. Begitu  juga dengan administrasi dan informasi lainnya,”ucap Sekretaris Desa, Abdul Haris Laparako.(*)

Bappeda NTB Apresiasi Rarang Selatan Tanggulangi Kemiskinan Bersama OpenSID

Ingin Lihat Semua Desa di NTB Manfaatkan SID

OpenDesa, Rarang Selatan–Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda),
Nusa Tenggara Barat (NTB), apresiasi Desa Rarang Selatan, Kecamatan Terara,
Kabupaten Lombok Timur dalam penanggulangan kemiskinan berbasis Data
Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) yang dikelola secara digital menggunakan
sistem informasi desa (OpenSID).

Pemanfaatan teknologi informasi untuk validasi dan akurasi data menggunakan
aplikasi sistem informasi desa (OpenSID) melalui kerjasama dengan komunitas desa
terbuka (OpenDesa), memudahkan desa dalam pengelolaan data secara digital,
informatif dan terintegrasi.

Kepala Bappeda NTB, DR. Ir. H. Iswandi, M. Si mengatakan, kehadirannya di Desa
Rarang Selatan untuk memastikan sejauh apakah teknologi informasi
dimanfaatkan untuk program penanggulangan kemiskinan yang dilakukan Desa Rarang Selatan.

“Kita ingin melihat sejauh mana Sistem Informasi Desa (SID) yang diterapkan di
Desa Rarang Selatan bisa membantu pemerintah desa dalam melakukan verifikasi
dan validasi data DTKS,”ungkap Kepala Bappeda Rarang Selatan, Iswandi, saat
kunjungannya, Jumat (27/8/2021) penghujung bulan lalu.

Kepala Bappeda NTB ini, juga ingin mengetahui sejauh mana dampak penurunan angka kemiskinan dengan keberadaan Sistem Informasi Desa (OpenSID). Sebab berbasis data yang akurat dan informatif, program penanggulangan kemiskinan dipastikan berjalan efektif dan tepat sasaran.

Dalam Website Resmi Desa Rarang Selatan, Kepala Desa Rarang Selatan, Marius bersama Kepala Urusan (Kaur) Pemerintahan, Muhammad menyampaikan, penggunaan sistem informasi desa (OpenSID) memberikan banyak kemudahan-kemudahan dalam pelayanan masyarakat maupun data yang ada di desa.

“Kita berharap dengan kunjungan ini memberikan manfaat dan dampak baik
ke depannya bagi Desa Rarang Selatan, ucap Kepala Desa Rarang Selatan, Marius.

Ingin Semua Desa Manfaatkan SID

Lebih rinci disampaikan Kaur Pemerintahan yang juga Operator OpenSID Rarang Selatan, Muhammad. Menurutnya, keberadaan
OpenSID tidak hanya membantu, namun jauh lebih memberi manfaat. Betapa tidak, dengan pemanfaatan OpenSID Desa Rarang Selatan, bahkan jadi trend centre alias buah bibir di Kabupaten Lombok Timur.

Pasalnya mampu gunakan teknologi informasi
dengan baik penunjang progresivitas pembangunan Desa Rarang Selatan.
“Alhamdulillah, Bapak Kepala Bappeda bahkan ingin melihat seluruh desa di NTB
bisa manfaatkan OpenSID untuk kemajuan dalam keterbukaan informasi,
pengelolaan data dan pelayanan maksimal bagi masyarakat,”ungkap Kaur Pemerintahan Drsa
Rarang Selatan ini via telepon genggamnya kepada OpenDesa, Sabtu (5/8/2021) siang.

Kunjungan Kepala Bappeda ini menjadi persiapan awal kehadiran Wakil Gubernur NTB, Dr. Ir. Hj. Siti Rohmi Djalilah ke Desa Rarang
Selatan dan sejumlah desa lainnya di Kabupaten Lombok Timur. Kehadiran Wakil
Gubernur, kata Muhammad, salah satu tujuannya melihat secara langsung pemanfaatan OpenSID yang mencuri perhatian pengembangan teknologi informasi di Desa
Rarang Selatan.

“Kita belum tahu pasti kapan tanggal dan hari kunjungan Gubernur. Namun rencana
awal seperti informasi yang kita dapatkan, pada pekan Ketiga September ini,”ucap Muhammad.


Sejumlah Desa adopsi nyata dalam hal pendataan dan keterbukaan informasi yang dibangun Desa Rarang Selatan, memotivasi dan ingin diadopsi sejumlah desa dan pemerintah kecamatan di NTB.

Kolaborasi Masyarakat untuk Pelayanan Kesejahteraan (Kompak), juga antusias dan siap bersinergi dengan OpenDesa. Sebab lembaga yang didanai oleh Pemerintah Australia ini, memiliki tujuan yang sama untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam mengurangi kemiskinan dan mengatasi kesenjangan ekonomi.

“Bapak Kepala Bappeda, berharap kepada Kompak agar siap memfasilitasi desa di NTB bisa memanfaatkan OpenSID,” pungkas Muhammad menuturkan kembali keinginan yang disampaikan, Kepala Bappeda Irwandi saat berkunjung ke Rarang Selatan beberapa waktu lalu.(*)

OpenSID Aplikasi Gratis Untuk Desa

Pengertian Sistem Informasi Desa

Dalam konteks OpenSID, yang dimaksud dengan Sistem Informasi Desa adalah proses dan aplikasi yang:

  • Berbasis komputer
  • Mengelola informasi kantor desa
  • Mendukung fungsi dan tugas kantor desa, termasuk administrasi kependudukan, perencanaan, pelaporan, pengelolaan asset, pengelolaan anggaran, layanan publik, dsbnya

Dengan pengertian ini, jenis aplikasi yang tercakup dalam “Sistem Informasi Desa” suatu desa bisa saja lebih dari satu: misalnya OpenSID untuk pengelolaan data kependudukan, SISKEUDES untuk mengelola keuangan desa, aplikasi lain untuk mengelola BUMDes, dsbnya.

Peran dan Manfaat SID

Berikut ini dijelaskan secara singkat beberapa manfaat SID menurut pengertian di atas (tidak terbatas pada fitur yang ada di OpenSID saja).

  1. Kantor desa lebih efisien
    Misalnya, dengan memakai OpenSID, kantor desa dapat menyediakan layanan surat keterangan pada warga jauh lebih cepat dibandingkan cara manual. Dengan OpenSID, data penduduk sudah tersimpan dan dapat diisikan secara otomatis pada surat yang bisa dicetak langsung.
  2. Kantor desa lebih efektif
    Sebagai contoh, karena SID menyimpan data penduduk beserta atribut-atributnya, kantor desa dapat dengan mudah memilah data penduduk secara akurat berdasarkan kriteria yang diinginkan, sehingga bisa mentargetkan suatu program pemerintah secara tepat sasaran. Ini berbeda dengan proses serupa tanpa SID, di mana sering dilakukan penentuan sasaran program secara kira-kira dan tidak berbasis data.
  3. Pemerintah desa lebih transparan
    Dengan SID, pemerintah desa dapat mengelola informasi kegiatan desa dalam bentuk yang mudah disajikan kepada warga dan lebih mudah diakses warga. Misalnya, kantor desa dapat memakai SID untuk mengelola informasi perencanaan pengembangan desa dan menampilkan informasi tersebut pada berbagai media, seperti di web desa, papan pengumuman dsbnya.
  4. Pemerintah desa lebih akuntabel
    Dengan adanya informasi perencanaan, kegiatan pembangunan, penggunaan dana desa dsbnya di dalam SID yang mudah diakses warga, pemerintah desa akan dituntut untuk lebih akuntabel. Kantor desa akan mempunyai kesempatan untuk secara lebih mudah membuat laporan pertanggung-jawaban kegiatan, penggunaan dana desa dsbnya.
  5. Layanan publik lebih baik
    Seperti disebut di atas, dengan SID kantor desa akan lebih efisien dan lebih efektif dalam melakukan fungsi dan tugas mereka. Karena salah satu tugas utama kantor desa adalah memberi layanan publik, fungsi ini pun akan lebih baik. Contoh sederhana yang diberikan di atas, warga akan bisa memperoleh surat keterangan yang mereka butuhkan secara lebih cepat dan dengan data yang lebih akurat.
  6. Warga mendapat akses lebih baik pada informasi desa
    Dengan SID, informasi kependudukan, perencanaan, asset, anggaran dsbnya akan terrekam secara elektronik. Semua informasi tersebut mempunyai potensi untuk lebih mudah diakses oleh warga. Kantor desa mempunyai kesempatan untuk menyediakan fasilitas bagi warga untuk mengakses informasi desa dengan mudah, misalnya dengan menerbitkan informasi desa di web desa. Karena tahu data itu ada, warga juga mempunyai kesempatan untuk menuntut kantor desa untuk menyediakan akses pada informasi yang mereka butuhkan.
  7. Warga dapat berpartisipasi lebih aktif dalam pembangunan desa
    Ketersediaan data dan informasi desa yang mudah diakses akan meningkatkan potensi warga untuk berpartisipasi dalam pembangunan desa. Warga akan tahu kegiatan apa yang sedang berjalan dan apa yang direncanakan, sehingga dapat ikut mengawal kegiatan tersebut ataupun memberi usul, saran dan masukan lain terkait pembangunan desa. Lebih dari itu, SID juga mempunyai potensi untuk menyediakan media elektronik untuk menggalang partisipasi warga, seperti forum diskusi atau formulir komentar/usulan elektronik.
SID diharapkan dapat membantu pemerintah desa dalam beberapa hal berikut:
  • Kantor Desa lebih efisien dan efektif
  • Pemerintah Desa lebih transparan dan akuntabel
  • Layanan Publik lebih baik
  • Warga mendapat akses lebih baik pada informasi desa
Strategi pengembangan OpenSID adalah untuk:
  • Memudahkan pengguna untuk mendapatkan SID secara bebas, tanpa proses birokrasi
  • Memudahkan pengguna menyerap rilis SID baru
  • Memungkinkan pegiat SID untuk membuat kontribusi langsung pada source code aplikasi SID
OpenSID dikelola di Github untuk:
  • Merekam semua perubahan yg dibuat
  • Memungkinkan kembali ke revisi sebelumnya, apabila diperlukan
  • Memudahkan kolaborasi antar pegiat SID dan juga dengan desa dampingan dalam mengembangkan SID
  • Backup online source code SID yg dapat diakses setiap saat

HAK CIPTA, SYARAT, DAN KETENTUAN

Aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) dibangun dan dikembangkan pada awalnya oleh COMBINE Resource Institution sejak tahun 2009. Pemegang hak cipta aslinya adalah Combine Resource Institution (http://lumbungkomunitas.net/).

Sistem ini dikelola dengan merujuk pada lisensi GNU General Public License Version 3 (http://www.gnu.org/licenses/gpl.html).

Versi di Github ini dikembangkan sejak Mei 2016, gratis dan bebas untuk dimanfaatkan dan dikembangkan oleh semua desa. Hak Cipta OpenSID sekarang dipegang oleh Perkumpulan Desa Digital Terbuka (https://opendesa.id), lembaga hukum yang sengaja dibentuk untuk mengelola OpenSID.

DEMO

Demo aplikasi OpenSID dapat dilihat di https://demo.opensid.or.id. Versi yang terlihat di demo itu adalah rilis Umum terkini. Modul administrasi demo OpenSID dapat diaskses pada https://demo.opensid.or.id/index.php/siteman. Masukkan Username = admin dan Password = sid304.