OpenSID Sosialisasikan Fitur Baru 22.01 Peningkatan Layanan Warga

Sosialisasi : Sosialisasi fitur baru rillis OpenSID 01.22 Peningkatan Layanan Warga

OpenDesa–Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa) sosialisasikan pengembangan fitur-fitur terbaru pemanfaatan layanan bagi warga. Sosialisasi virtual yang sebelumnya bernama Tanya Jawab rilis, menjadi sumber informasi penting bagi pengguna dan calon pengguna OpenDesa.

Sosialisasi, Jumat (7/1/022) malam tersebut, menghadirkan pegiat OpenDesa, Andi Fahruddin Akas dan Davit Kurniawan. Menjadi agenda penting, sosialisasi bulanan ini merupakan wadah bagi pengguna maupun calon pengguna OpenDesa untuk mengetahui fitur-fitur terbaru menuju desa digital cerdas dan keterbukaan informasi publik. 

Andi Fahrudin Akas memaparkan, produk OpenDesa, mulai dari Sistem Informasi Desa Terbuka (OpenSID) untuk desa dan Sistem Informasi Dashboard Kecamatan  (OpenDK) ntuk kecmatan.

“Pengguna OpenSID mobile bisa melakukan akses via telepon pintar. Selanjutnya pengembangan layanan aplikasi, Posyandu dan Stunting yang terintegrasi dengan sumber data OpenSID, juga sedang dikembangkan”ucap Andi Fahruddin Akas. 

OpenDesa makin produktif untuk layani masyarakat, bahkan pengguna juga sudah bisa memanfaatkan layanan lapak untuk membantu warga agar bisa melakukan transaksi jual beli pada fitur lapak. Bisa diunduh, dengan syarat pengguna OpenSID premium. Fitur aplikasi mobile ini hampir sama dengan yang ditampilkan web, seperti data penerima bantuan misalnya,”terang Akas.

Tidak Itu saja, fitur pengaduan juga dikembangkan dan bisa diakses secara langsung oleh masyarakat umum dari desa maupun dari luar desa. “Itulah beberapa fitur baru yang dikembangkan OpenDesa saat ini. Ini informasi umum yang bisa kita paparkan,”tutup Akas. 

Pada kesempatan yang sama, pegiat OpenDesa, David Kurniawan menghimbau, desa-desa yang ada di Indonesia harus mengetahui lebih jauh manfaat dari produk-produk yang dikembangkan para pegiat OpenDesa. Produk-produk yang disediakan secara gratis ini sangat disayangkan jika tidak bisa dimanfaatkan. Padahal sangat membantu desa lebih cepat memajukan desa dalam pemanfaatan teknologi informasi. 

“OpenDesa tidak berafiliasi pada organisasi apapun, sehingga pengembangannya hanya berorientasi untuk memajukan desa dengan fitur-fitur yang dirancang secara efektif. Hanya saja masih ada desa yang belum mau menerima manfaat ini. Padahal kita sangat butuh bantuan teknologi untuk bergerak lebih cepat di Desa. Namun kabar baik dan contoh baiknya bisa kita lihat di Provinsi Lampung. Saat ini Lampung sepakat untuk menuju Smart Village dengan pemanfaatan digitalisasi,”ucap David yang juga pegiat Smart Village Provinsi Lampung ini.

Sejalan dengan rencana secara nasional, untuk mengintegrasikan pemerintahan melalui pemanfaatan teknologi informasi. ”Bila ingin mengembangkan wisata, ekonomi, e-commerce, bisa maju bersama OpenDesa lewat penggunaan aplikasi yang terus dikembangkan,”ajak Davit Kurniawan, pegiat Opendesa yang berdarah Minang ini. 

Aplikasi perlu dikembangkan secara berkelanjutan dan harus terus diperbaharui. Bahkan saat ini, kata Davit, ada pembicaraan secara nasional terkait Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) dan metadata.”Kedepan bukan tidak mungkin, kita di OpenDesa yang akan menjadi salah satu penggeraknya. Misalnya dengan Meta Desa atau sebagainya. Saran saya utus satu orang untuk bisa mengikuti keberlangsungan OpenDesa,”harap Davit. 

Kesinambungan perbaikan tata laksana pemerintahan desa melalui teknologi informasi menjadi jaminan keberlangsungan OpenSID ini. sehingga perlu dibangun dengan model ekosistem seperti yang saat ini dilakukan OpenDesa. Caranya, berkontribusi bersama, lakukan pembaharuan dan terus bergerak dinamis melahirkan ide-ide baru melayani dan melahirkan fitur-fitur terbaru sesuai kebutuhan. 

“Kemudian soal asas OpenDesa, secara umum kita merupakan gerakan sosial dan nirlaba. Tdak berorientasi pada keuntungan secara pribadi, sebab aplikasi disediakan gratis. Namun memang ada fitur premium sebagai wujud upaya penggalangan dana untuk kebutuhan kelangsungan pegembangan. Wajar ada cost untuk mengembangkan aplikasi yang lebih baik. Sehingga juga akan memberi manfaat bagi kita semua, pengguna maupun pengembang untuk terus berkarya,”papar David Kurniawan. 

Mewujudkan desa Indonesia yang tersambung secara digital ini, sebentar lagi akan bisa terwujud. Sebab saat ini, pengguna terus bertambah dengan minimal 10 desa perhari.

”OpenDesa semakin besar setiap hari dan akan bisa menghubungkan satu desa dengan desa lainnyadi nusantara. Ini akan menjadi wadah untuk saling berbagi informasi. Inilah alasan, kenapa kita harus bergabung dan bergerak bersama untuk mewujudkan kemajuan desa melalui digitalisasi. OpenDesa, terus mengembangkan kebutuhan aplikasi untuk desa ,”pungkas David Kurniawan.(*)

Terapkan e-Voting Pilkades, Pemprov Lampung Motivasi Peserta Webinar OpenDesa

Kepala Dinas PMDT Provinsi Lampung, Zaidirina Wardoyo S.E., M.Si.
Webinar : Kepala Dinas PMDT Provinsi Lampung, Dr. Zaidirina Wardoyo S.E., M. Si.,
saat menjadi narasumber webinar OpenDesa 22.05, Jumat(13/05/2022.

OpenDesa–Menjadi salah satu provinsi di pulau Sumatera yang sangat antusias dengan pemanfaatan teknologi digital, Pemerintah Provinsi Lampung bersama Kabupaten Pringsewu, bakal segera terapkan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di Delapan Kecamatan menggunakan basis data Sistem Informasi Desa Terbuka (OpenSID).

Hal itu diungkapkan, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Transmigrasi (PMDT) Provinsi Lampung, Zaidirina saat menjadi narasumber Webinar OpenDesa 22.05, dihadapan 190 peserta,  Jumat(13/5/2022) siang. Diwujudkannya langkah menuju Lampung Smart Village, memotivasi peserta webinar yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia. 

“Melaksanakan e-voting di 98 TPS pada 19 desa yang tersebar di Delapan kecamatan di Kabupaten Pringsewu bakal digelar 18 Mei tahun 2022 ini. Ini memanfaatkan data DPT dari Sistem Informasi Desa (SID) berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) KTP elektronik. Ini akan disaksikan dan akan menjadi percontohan bagi provinsi dan kabupaten kota lainnya di Indonesia,”harap, Zaidirina. 

Menjadi bagian upaya mensukseskan program Smart Village Provinsi Lampung, OpenSID yang dikembangkan para pegiat digitalisasi desa dari Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa), menjadi langkah nyata memaksimalkan kinerja menuju desa cerdas. 

“Saya sangat apresiasi dengan OpenSID, memiliki banyak suplemen data untuk kemudahan pelayanan. Sebut saja ada sistem keamanan, informasi publik, pengembangan lainnya sesuai kebutuhan desa dalam pelayanan publik dan pemerintahan. Bahkan terus dikembangkan untuk mendukung setiap kebutuhan desa dengan data yang validasinya akurat, cepat dan transparan,”tambah Kadis PMDT sedikit mengulas kemudahan menggunakan SID. 

Bahkan Provinsi Lampung juga mengembangkan lebih jauh pemanfaatan OpenSID melalui program Smart Village untuk Samsat Desa Elektronik (e-Samdes) hingga e-Bumdes dengan suplemen-suplemen yang sangat mendukung demi kemajuan desa memanfaatkan pengelolaan data dari sumber Sistem Informasi Desa.

”Bahkan dengan Program Smart Village sesuai arahan Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi, smart village juga menerapkan Kartu Petani Berjaya (KPB) sebagai wujud Sistem Pemerintahan Berbasis Elektonik (SPBE) untuk pengelolaan kebutuhan pertanian bagi petani,”sambung Zidirina.      

Mendengar pemaparan yang disampaikan Kepala Dinas PMDT Lampung, peserta Webinar OpenDesa 22.05 terlihat bersemangat ingin menerapkan aplikasi sumber terbuka (open Source) yang dimiliki OpenDesa. Aplikasi OpenSID umum yang bisa digunakan secara gratis ini, benar-benar dirancang untuk memajukan desa dengan Zero Cost.

Para peserta webinar OpenDesa dari berbagai provinsi semangat mempertanyakan bagaimana pengimplementasian OpenSID. Seperti yang ditanyakan, Saiful Rahmat dari Pamekasan, Jawa Timur, Bagus Setiawan dari Provinsi Jawa Barat dan Yuhefizar dari Provinsi Sumatera Barat. 

Dalam webinar OpenDesa yang mengusung tema “Mewujudkan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE)” ini, Kadis PMDT Provinsi Lampung, Zaidirina dan Davit Kurniawan dari OpenDesa yang merupakan Head Of Smart Village Program Smart Village Provinsi Lampung serta Narasumber Teknis OpenDesa, Yogi Perdana, menjelaskan dengan rinci bagaimana penerapan aplikasi sisitem informasi desa.(*)  

Menuju Prestasi Provinsi, Bupati Muaro Jambi Apresiasi OpenSID Mekarsari

Apresiasi : Bupati Muaro Jambi, Hj. Masnah Busro saat menyatakan apresiasi untuk Desa Mekarsari, Kecamatan Kumpeh yang mampu menerapkan kemajuan menggunkan Sistem Informasi Desa OpenSID menuju Desa Digital Cerdas dan Smart Village.

Muaro Jambi, OpenDesa–Berpacu menuju desa digital cerdas, Mekarsari, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, melaju pesat bersama Sistem Informasi Desa Terbuka (OpenSID). Aplikasi yang dikembangkan Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa) ini, mendapat apresiasi Bupati Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Masnah Busro.

Bergabung menjadi pengguna OpenSID sejak Juni 2021, Desa Mekarsari, Kecamatan Kumpeh, mampu memberikan yang terbaik untuk kinerja pemerintahan desa dan layanan publik. Sehingga dilirik sebagai salah satu desa digital yang cerdas dan membawa Desa Mekarsari meraih prestasi mulai dari Kecamatan Kumpeh hingga Kabupaten Muaro Jambi. 

Bahkan, bulan Mei ini diutus mewakili Kabupaten Muaro Jambi ke tingkat Provinsi Jambi. Mulai dari layanan data, administrasi kependudukan dan pelayanan administrasi publik mampu diwujudkan Desa Mekarsari.

“Kita apresiasi Pemerintah Desa Mekarsari yang telah sukses mengaplikasikan desa digital dan Smart Village yang diintegrasikan dengan pelayanan administrasi digital dan anjungan desa mandiri. Semoga ini bisa menjadi motivasi dan contoh bagi desa lainnya di Muaro Jambi dan Provinsi Jambi guna wujudkan desa digital,”ucap Hj. Masnah Busro Bupati yang membawahi sekitar 150 desa ini. 

Bersama Belasan ribu desa di Indonesia yang tergabung menjadi pengguna OpenSID, Mekarsari saat ini sudah bisa melayani masyarakat yang sudah memiliki ponsel berbasis Android, cukup dengan mengakses aplikasi dari genggaman untuk kebutuhan pengurusan administrasi yang dibutuhkan secara cepat. 

Bahkan bagi masyarakat di desa yang belum memiliki perangkat ponsel Android, Desa Mekar Sari juga sudah memiliki sebuah kotak pintar, Anjungan Desa Mandiri (ADM). Aplikasi yang terhubung secara online, menjadi model kemudahan pelayanan dan akses bagi masyarakat melalui website Desa Mekar Sari dengan alamat : https://mekarsari-kumpeh.desa.id.

“Saya tidak menyangka ada sistem yang sangat aplikatif untuk menciptakan desa lebih maju dalam hal teknologi informasi. Lengkap, mudah dan gratis lagi,”ucap Budi Saputra, Kepala Urusan (Kaur) Umum, Desa Mekarsari, Kecamatan Kumpeh yang sekaligus operator. 

Awalnya, kata Budi, dirinya bertekad untuk menciptakan desa menjadi desa digital. Bagaimana kemajuan teknologi informasi bisa dimanfaatkan untuk kemudahan pekerjaan dan pelayanan masyarakat, meski di daerah yang berada jauh dari pusat Kabupaten Muaro Jambi dan Provinsi Jambi. 

Sebelumnya, ada sistem informasi desa yang digunakan dan menjadi bagian dari program Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), Kabupaten Muaro Jambi, namun akhir-akhir ini, tidak lagi digunakan. Sebab dinilai membutuhkan biaya tinggi untuk pengaplikasiannya. 

OpenSID dari OpenDesa, menjawab semua kebutuhan desa. Sehingga mampu mencuri perhatian Desa Mekarsari hingga Kecamatan Kumpeh. Bahkan Camat Kumpeh, Dicky Ferdiansyah, sangat tertarik dengan apa yang dilakukan Desa Mekarsari dan mendukung penuh upaya yang tengah dilakukan dalam upaya digitalisasi desa. 

“Melihat Mekarsari mampu dengan cepat menyajikan data, melayani administrasi dengan mudah hingga berbagai keunggulan lainnya, membuat Mekarsari, Kumpeh jadi sorotan. Setidaknya 15 Desa dengan 1 Kelurahan di Kecamatan Kumpeh mulai antusias ingin menggunakan OpenSID untuk sistem informasi desa,”cerita Budi saat di wawancarai OpenDesa, Selasa(10/5) malam. 

Camat Kumpeh, Dicky Ferdiansyah yang juga sangat antusias dengan program pemanfaatan teknologi informasi digital ini, terdengar bersemangat agar OpenSID bisa aplikatif di semua desa yang ada di Jambi.

“Sepertinya, sejak Kabupaten Muaro Jambi mekar dari Kabupaten Batanghari sejak 1999 lalu, perlu memacu kemajuan melalui digitalisasi seperti yang sudah dilakukan Mekarsari,”ucap Camat yang juga mantan Kabid PMD Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kabupaten Muaro Jambi ini, Selasa malam.

Kecamatan pengguna Dashboard Kecamatan Terbuka (OpenDK) ini, berharap agar setiap alur administrasi bisa diringkas dari desa hingga kecamatan dengan sistem informasi saat ini. “Artinya, masyarakat bisa dengan mudah mengurus kepentingan administrasi lewat genggaman, tidak perlu buang waktu dan biaya untuk sebuah pengurusan,”harap Dicky Ferdiansyah. 

Di Penghujung diskusi singkat via panggilan paralel WhatsApp bersama OpenDesa, Kaur Umum Desa Mekarsari, Camat Kumpeh, Selasa malam, Dicky Ferdiansyah berharap Pemerintah Provinsi Jambi maupun Kabupaten Muaro Jambi bisa meningkatkan pembinaan, merapikan data dan mengintegrasikan pelayanan publik agar lebih ringkas. 

“Membina desa, memanfaatkan teknologi informasi digital saat ini, hingga pelayanan masyarakat menjadi lebih ringkas. Harapan untuk OpenDesa, agar bisa disediakan sistem yang bisa memangkas pengurusan administrasi dari desa hingga kecamatan. Sehingga masyarakat desa tidak perlu lagi repot harus ke kecamatan setelah kelengkapan administrasi lengkap di masing-masing desa,”harap Dicky Ferdiansyah.(*)  

OpenDesa Untuk Kita

OpenDesa–OpenDesa merupakan sebuah organisasi berbadan hukum perkumpulan sesuai SK Kemenkum HAM AHU-0000481.AH,01.07.TAHUN 2019 tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkumpulan Desa Digital Terbuka. Organisasi nirlaba yang didirikan ini, murni sebuah upaya sosial para pegiat digitalisasi untuk memajukan desa-desa di Indonesia. 

Upaya Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa) ditujukan untuk mewujudkan desa-desa cerdas dengan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mulai dari masyarakat desa. Sehingga tercipta masyarakat dan pemerintahan desa yang cerdas dalam pemanfaatan teknologi digital untuk kemajuan desa secara bersama. 

Sehingga muncul inisiatif dari para pegiat digitalisasi teknologi informasi dengan kemampuan yang dimiliki untuk disumbangkan bagi desa dalam pemanfaatan teknologi. Bagaimana menghadirkan kemudahan pelayanan dan keterbukaan informasi mulai dari desa dan masyarakatnya. 

Programmer para pengembang aplikasi dari seluruh Indonesia berkolaborasi menciptakan sistem pengelolaan pekerjaan pemerintah desa secara digital. Perkumpulan Desa Digital Terbuka ini melahirkan Sistem Informasi Desa Terbuka (OpenSID). OpenSID merupakan aplikasi yang didedikasikan untuk desa-desa secara gratis.

Berhasil menciptakan dan terus mengembangkan sistem informasi desa yang aplikatif, selain OpenSID, OpenDesa juga memiliki sistem informasi terbuka untuk Pemerintah Kecamatan yang disebut dengan Dashboard Kecamatan Terbuka (OpenDK). Aplikasi ini menjadikan pemerintah desa dan kecamatan bisa terkoneksi dalam satu sistem informasi terbuka. Sehingga memudahkan dalam akselerasi pencapaian tujuan pembangunan.

Jika ingin mengetahui lebih rinci produk OpenDesa seperti OpenSID dan OpenDK, simak pada artikel lainnya di https://opendesa.id/tentang-kami/.(*) 

OpenSID Bawa Desa Kutuh Lebih Maju dan Informatif

“Terima kasih banyak pak, Desa Kami bisa lolos juga 10 Desa Cinta Statistik oleh BPS RI karena penggunaan OpenSID. Terlebih di bulan yang sama tingkat provinsi kami mendapat penghargaan Desa Informatif. Waktu itu masih menggunakan versi umum, sekarang dengan versi premium lebih joss,”ucap Kepala/ Perbekel Desa Kutuh, I Wayan Mudana, ST melalui Staff TI, I Gede Agus Sugiantara dan Made Gde Jaya Kusuma, Kamis(10/1). 

Makin Digital, Kini Masyarakat Desa Cukup Urus Surat via Ponsel

OpenSID

OpenDesa–Bergerak maju untuk digitalisasi pelayanan masyarakat, Nagari ( Desa, red) Sikabu-kabu Tanjuang Haro Padang Panjang(Sitapa) Kecamatan Luak, luncurkan terobosan pelayanan pengurusan surat dari ponsel. Tidak perlu antri, dari mana saja sudah bisa urus surat lewat teknologi yang diaplikasikan di nagari yang berada di lereng Gunung Sago, Sumatera Barat ini. 

Memaksimalkan pelayanan untuk masyarakat, kata Sekretaris Nagari (Seknag) pemerintah Nagari Sitapa, Hery Wanda melalui website nagari serta platform OpenDesa menghadirkan fitur terbaru. Fitur Layanan Mandiri. Sebuah fitur yang bisa menghemat waktu masyarakat.

Herry Wanda menjelaskan, fitur ini adalah yang terbaru dari Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa). “Dengan aplikasi ini, untuk mengurus surat-menyurat, masyarakat tidak perlu lagi datang dan mengantri di kantor wali nagari. Karena sudah bisa diurus dari rumah saja, atau dari tempat bekerja saja. Masyarakat hanya perlu ke kantor wali nagari hanya tinggal untuk menjemput surat yang dibituhkan,” sebut Wanda.

Lantas urat apa saja yang bisa diajukan dari rumah? Seperti biasanya, surat yang bisa diajukan dari rumah adalah surat-surat yang kerap diurus oleh masyarakat. Misalnya, pengantar surat keterangan catatan kepolisian, surat keterangan KTP sedang proses, surat keterangan beda identitas, surat keterangan untuk bepergian jauh, surat keterangan kurang mampu, surat pengantar izin keramaian, surat pengantar laporan kehilangan, surat keterangan usaha, surat keterangan domisili usaha, serta surat keterangan domisili.

“Caranya, Pertama sekali, dengan mendownload aplikasinya. Bisa dibuka di playstore, lalu ketik Layanan Mandiri OpenSID. Setelah mendownload, bisa login dengan nomor induk kependudukan (NIK) masing-masing. Namun harus mendapatkan terlebih dahulu kode PIN atau password,”terang anak muda inovatif ini.

Cara mendapatkan kode PIN bisa dengan mengontak admin via aplikasi WA. Nanti Admin akan memandu bagaimana cara mendapatkan kode PIN dan akan dikirim via WA. Bisa di kontak nomor WA 081261938993.

“Setelah memasukkan nomor NIK dan password, maka bisa langsung mengklik layanan persuratan ajukan surat. Di kanan bawah akan ada icon plus (+) lalu bisa memilih jenis surat apa yang akan diajukan,”tambah Seknag. 

Setelah itu, isilah kolom keterangan tambahan tambahan. Kolom keteranganini berisi alasan kenapa mengajukan surat tersebut. Jangan lupa mengisi kolom nomor HP. Setelahnya, tinggal mengklik selanjutnya. Lalu akan muncul beberapa kolom lagi. Isilah mengisi semua kolom dengan sebenar-benarnya, maka tinggal mengklik simpan.

Masyarakat bisa menunggu beberapa saat untuk admin memprosesnya. Jika suratnya sudah siap, admin akan menghubungi. Surat yang diajukan siap untuk dijemput. 

“Ke depan kita akan merencanakan surat-surat yang diajukan masyarakat bisa langsung ditandatangani secara digital oleh pemerintah nagari. Sehingga nanti masyarakat benar-benar bisa menunggu di rumah. Admin akan mengirim surat dengan format PDF ke hp masing-masing,” tutup Wanda.(*)

Titian Kuala Wujudkan Desa Masa Depan dengan Anjungan Desa Mandiri

ADM : Anjungan Desa Mandiri (ADM) Desa Titian Kuala, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, sedang memasang perangkat ADM

OpenDesa, Kalbar–Bergerak maju untuk optimalisasi pelayanan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi informasi, Desa Titian Kuala pasang Anjungan Desa Mandiri (ADM) di Kantor Desa. Pelayanan administrasi cepat dengan data akurat bisa diakses masyarakat secara mandiri. 

Meski berada di pedesaan yang jauh dari pusat ibu kota kabupaten, Desa Titian Kuala, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, menjadi salah satu desa informatif dan inovatif yang bergabung bersama Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa) sejak tahun 2019 silam.  

Berjarak sekitar 158 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Kapuas Hulu, Desa Titian Kuala, bertekad memanfaatkan teknologi informasi secara maksimal menggunakan Sistem Informasi Desa Terbuka (OpenSID). Sehingga sejak tahun 2019 lalu, Desa Titian Kuala, sudah melaju untuk pelayanan maksimal dan kinerja yang handal memanfaatkan teknologi informasi. 

Terlihat postingan video salah seorang pegiat OpenDesa melalui akun Facebook milik Soptian Hadi pada Group Pegiat dan Pengguna OpenSId Dua orang tengah menggotong perangkat ADM.”Alhamdulillah Datang dengan selamat. Satu-satunya anjungan layanan mandiri di Provinsi Kalbar. Colek Ai Skematik Rohman Mukomuko Forum Pengguna dan Pegiat OpenSID,”tulis Soptian Hadi, Selasa(11/1).

“Desa Titian Kuala, awal mulanya kita 2019 mengenal OpenSID lewat kawan salah seorang pegiat, ketika selama Tiga hari kami berada di Desa Miau Merah, Kecamatan Silat Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, sambil belajar dan silaturahmi. Sejak saat itu hingga pertengahan tahun 2021 masih  menggunakan fitur umum,”terang Soptian Hadi yang merupakan Kepala Desa Titian Kuala, Kamis(13/1/2022) pagi. 

Berawal dari situlah, Desa Titian Kuala menjadi pengguna OpenSID umum hingga premium. Motivasi Desa Titian Kuala untuk memajukan desa diwujudkan dengan pemanfaatan teknologi. 

“Kita ingin memajukan desa lewat pemanfaatan teknologi dan informasi. Menggunakan OpenSID,  karena ingin melakukan tata kelola data desa yang lebih baik dan efisien, ingin melayani warga lebih cepat,”ucap Kades Titian Kuala, Soptian Hadi S.H.I ini.

Merasakan kemudahan dan manfaat penggunaan fitur-fitur OpenSID, Desa Titian Kuala melakukan upgrade aplikasi menggunakan menggunakan OpenSID Premium.

“Biar lebih cepat mendapatkan fitur baru sehingga lebih cepat dimanfaatkan. Selain itu untuk membantu berkontribusi dalam pengembangan OpenSID sehingga dapat dimanfaatkan oleh ribuan desa di indonesia yang masih menggunakan opensid umum,”tambah Kades Titian Kuala. 

Saat ini, Desa Titian Kuala sudah memiliki anjungan mandiri untuk optimalisasi pelayanan publik. Sehingga warga dengan mudah bisa cetak surat secara mandiri sesuai kebutuhan administrasi masing-masing. 

“Kita menggunakan anjungan sebagai upaya untuk melakukan keterbukaan informasi publik.  Sehingga dengan adanya anjungan layanan mandiri, masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi dan mendapatkan pelayanan secara mandiri,”tutup Kades inovatif ini.(*)

Info OpenSID Hackathon 2022

OpenDesa – Hackathon merupakan kegiatan kompetisi pemrograman yang berlangsung untuk beberapa jam hingga beberapa hari. Kegiatan ini diselenggarakan OpenDesa untuk memperkenalkan ekosistem Sistem Informasi Desa Terbuka (openSID) kepada programmer indonesia. 

OpenSID salah satu sistem informasi desa yang paling banyak digunakan di indonesia dan bersifat opensource. Tidak hanya sistem informasi desa yang berdiri sendiri akan tetapi openSID juga sudah terintegrasi dengan openDK yang merupakan sistem informasi yang digunakan oleh pihak kecamatan. Sehingga informasi dari desa bisa terintegrasi dengan data yang dibutuhkan oleh kecamatan, ini merupakan langkah nyata openSID dengan visi sebagai rumah data bagi desa, 

Cara Mengikuti Hackaton

Peserta diwajibkan untuk mengikuti tahapan tahapan berikut :

  1. Melakukan pendaftaran peserta pada link ini : https://s.id/LKIR-
  2. Bergabung dengan grup pengembang bebas OpenSID : http://bit.ly/opendesa-umum
  3. Mengikuti sosialisasi pengetahuan teknis terkait pengembangan aplikasi openSID dan OpenDK yang akan dilakukan pada tanggal : 22 Januari hingga 23 Februari 2022 (lihat time line di bawah)
  4. Mulai mengerjaan issue yang telah disampaikan dan mengirim Pull Request sebanyak – banyak nya untuk menjadi pemenang

Hadiah Yang Ditawarkan Bagi pemenang

kami menawarkan 2,5jt untuk 1 orang pemenang berdasarkan keputusan dari panitia, pemenang adalah peserta yang berhasil mengirimkan pull requeset terbanyak dan di disetujui oleh admin berdasarkan kriteria yang sudah dibahas pada meeting teknis.(*)

Time Line Hackathon 2022

Pendaftaran : 22-28 Januari 2022

Briefing Teknis : 29 Jauari 2022

Pelaksanaan : 1-14 Februari 2022

Penilaian : 15-22 Februari 2022

Pengumuman Hasil : 23 Februari 2022

Tiga Desa di Kecamatan Talang Padang Antusias Pelatihan OpenSID

OpenSID : Peserta pelatihan OpenSID di Kecamatan Talang Padang, Kabupaten Tagamus, Provinsi Lampung foto bersama usai pelatihan, Sabtu(18/12/2021)

OpenDesa–Menuju desa cerdas di era digitalisasi dan Lampung Smart Village, Desa Suka Negeri, Desa Singosari dan Desa Sukabumi, antusias mengikuti pelatihan Sistem Informasi Desa (OpenSID). Pasalnya, aplikasi yang dikembangkan Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa) ini, diyakini menjadi salah satu sarana utama menuju Smart Village. 

Sesuai dengan visi menjadikan Provinsi Lampung Berjaya dibawah kepemimpinan, Gubernur Lampung, Ir. H. Arinal Djunaidi, butuh langkah nyata pemanfaatan teknologi informasi.Sebab   dalam misi keempat dari visi tersebut merujuk pada mengembangkan infrastruktur guna meningkatkan efisiensi produksi dan konektivitas wilayah atau menuju Lampung Smart Village. 

“Kita dari Desa Merbau serta Desa, Sukabumi dan Singosari, menggelar pelatihan OpenSID. Ini mengikuti jejak belasan ribu desa lainnya di Nusantara untuk lebih mengoptimalkan teknologi informasi untuk kinerja pemerintahan desa,”ucap Kepala Urusan Keuangan Desa Merbau, Komarullah kepada OpenDesa, via pesan WhatsApp Jumat(24/12) siang .

Pelatihan Sistem Informasi Desa OpenSID ini, kata Komarullah, sekaligus sosialisasi tentang program Smart Village Provinsi Lampung. Pelatihan yang diikuti para perangkat nagari ini  digelar di Pekon Singosari, Kecamatan Talang Padang, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, Sabtu(18/12/2021).(*)

Dua Kecamatan di Bone Antusias Ikut Pelatihan OpenSID

Antusias : Tiga Puluh orang peserta dari Kecamatan Sibulue dan Ulaweng, Kabupaten Bone,  Provinsi Sulawesi Selatan antusias mengikuti pelatihan pemanfaatan Sistem Informasi Desa Terbuka (OpenSID)yang dikembangkan komunitas Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa), Jumat hingga Sabtu (3-4/12/2021) lalu.

Bone, OpenDesa–Sedikitnya 30 orang dari 9 Desa di Kecamatan Sibulue dan Ulaweng, Kabupaten Bone,  Provinsi Sulawesi Selatan, antusias mengikuti pelatihan pemanfaatan Sistem Informasi Desa Terbuka (OpenSID). Aplikasi yang dikembangkan komunitas Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa) ditransfer via pelatihan sepanjang Jumat hingga Sabtu (3-4/12/2021) ini. 

“Kita bersama sejumlah teman-teman dari desa  di Kecamatan Sibulue dan Ulewang melaksanakan pelatihan OpenSID selama dua hari. Digelar secara sederhana saja. Kita berbagi pengalaman selama menggunakan OpenSID sejak Tiga tahun terakhir,”tutur Kepala Desai(Kades) Bana, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone, Ishak Boca, beberapa waktu lalu.   

Kades yang juga pegiat OpenDesa di Kabupaten  Bone  tersebut, merupakan salah satu tokoh yang sangat terbuka untuk kemajuan desa dan dengan cepat mengadopsi teknologi  informasi guna mempermudah kinerja aparatur dalam pemerintahan desa dan pelayanan optimal bagi masyarakat.

“Desa Bana, merupakan salah satu desa yang berada di pelosok Kabupaten Bone. Tempatnya terpencil di sudut kabupaten. Inilah yang menjadi motivasi utama bagi kami di Desa Bana untuk bisa terhubung dengan dunia luar dan melek informasi. Sehingga di tahun 2018 lalu, kita putuskan untuk bergabung dengan OpenDesa dan memanfaatkan sistem informasi desa yang dikembangkan anggota komunitas ini,”ucap   

Melihat manfaat dan progresifitas Desa Bana dalam hal teknologi informasi sebagai penunjang geliat pembangunannya, menjadi motivasi bagi sejumlah desa. Sehingga memunculkan rasa ingin tahu desa lainnya di Kabupaten Bone. 

“Atas motivasi inilah, saya sebagai Kepala Desa yang telah menerapkan penggunaan OpenSID di pemerintahan desa, berbagi pengalaman bersama teman-teman dari desa lainnya dari Kecamatan  Sibulue dan Ulaweng yang diwakili sebanyak Sembilan desa di dua kecamatan itu dengan peserta sebanyak 30 orang,”ucap Ishak Boca. 

Menggunakan aplikasi OpenSID secara gratis hingga beralih menjadi pengguna premium dan memiliki layanan Anjungan Desa Mandiri (ADM), kemajuan desa kian terasa seiring kemajuan teknologi saat ini.”Semoga semua desa di Indonesia bisa menerapkan sistem informasi untuk pembangunan desa dan masyarakat yang cerdas,”harap Kades Bana ini.(*)