Bulan: Januari 2022

OpenSID Sosialisasikan Fitur Baru 22.01 Peningkatan Layanan Warga

Sosialisasi : Sosialisasi fitur baru rillis OpenSID 01.22 Peningkatan Layanan Warga

OpenDesa–Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa) sosialisasikan pengembangan fitur-fitur terbaru pemanfaatan layanan bagi warga. Sosialisasi virtual yang sebelumnya bernama Tanya Jawab rilis, menjadi sumber informasi penting bagi pengguna dan calon pengguna OpenDesa.

Sosialisasi, Jumat (7/1/022) malam tersebut, menghadirkan pegiat OpenDesa, Andi Fahruddin Akas dan Davit Kurniawan. Menjadi agenda penting, sosialisasi bulanan ini merupakan wadah bagi pengguna maupun calon pengguna OpenDesa untuk mengetahui fitur-fitur terbaru menuju desa digital cerdas dan keterbukaan informasi publik. 

Andi Fahrudin Akas memaparkan, produk OpenDesa, mulai dari Sistem Informasi Desa Terbuka (OpenSID) untuk desa dan Sistem Informasi Dashboard Kecamatan  (OpenDK) ntuk kecmatan.

“Pengguna OpenSID mobile bisa melakukan akses via telepon pintar. Selanjutnya pengembangan layanan aplikasi, Posyandu dan Stunting yang terintegrasi dengan sumber data OpenSID, juga sedang dikembangkan”ucap Andi Fahruddin Akas. 

OpenDesa makin produktif untuk layani masyarakat, bahkan pengguna juga sudah bisa memanfaatkan layanan lapak untuk membantu warga agar bisa melakukan transaksi jual beli pada fitur lapak. Bisa diunduh, dengan syarat pengguna OpenSID premium. Fitur aplikasi mobile ini hampir sama dengan yang ditampilkan web, seperti data penerima bantuan misalnya,”terang Akas.

Tidak Itu saja, fitur pengaduan juga dikembangkan dan bisa diakses secara langsung oleh masyarakat umum dari desa maupun dari luar desa. “Itulah beberapa fitur baru yang dikembangkan OpenDesa saat ini. Ini informasi umum yang bisa kita paparkan,”tutup Akas. 

Pada kesempatan yang sama, pegiat OpenDesa, David Kurniawan menghimbau, desa-desa yang ada di Indonesia harus mengetahui lebih jauh manfaat dari produk-produk yang dikembangkan para pegiat OpenDesa. Produk-produk yang disediakan secara gratis ini sangat disayangkan jika tidak bisa dimanfaatkan. Padahal sangat membantu desa lebih cepat memajukan desa dalam pemanfaatan teknologi informasi. 

“OpenDesa tidak berafiliasi pada organisasi apapun, sehingga pengembangannya hanya berorientasi untuk memajukan desa dengan fitur-fitur yang dirancang secara efektif. Hanya saja masih ada desa yang belum mau menerima manfaat ini. Padahal kita sangat butuh bantuan teknologi untuk bergerak lebih cepat di Desa. Namun kabar baik dan contoh baiknya bisa kita lihat di Provinsi Lampung. Saat ini Lampung sepakat untuk menuju Smart Village dengan pemanfaatan digitalisasi,”ucap David yang juga pegiat Smart Village Provinsi Lampung ini.

Sejalan dengan rencana secara nasional, untuk mengintegrasikan pemerintahan melalui pemanfaatan teknologi informasi. ”Bila ingin mengembangkan wisata, ekonomi, e-commerce, bisa maju bersama OpenDesa lewat penggunaan aplikasi yang terus dikembangkan,”ajak Davit Kurniawan, pegiat Opendesa yang berdarah Minang ini. 

Aplikasi perlu dikembangkan secara berkelanjutan dan harus terus diperbaharui. Bahkan saat ini, kata Davit, ada pembicaraan secara nasional terkait Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) dan metadata.”Kedepan bukan tidak mungkin, kita di OpenDesa yang akan menjadi salah satu penggeraknya. Misalnya dengan Meta Desa atau sebagainya. Saran saya utus satu orang untuk bisa mengikuti keberlangsungan OpenDesa,”harap Davit. 

Kesinambungan perbaikan tata laksana pemerintahan desa melalui teknologi informasi menjadi jaminan keberlangsungan OpenSID ini. sehingga perlu dibangun dengan model ekosistem seperti yang saat ini dilakukan OpenDesa. Caranya, berkontribusi bersama, lakukan pembaharuan dan terus bergerak dinamis melahirkan ide-ide baru melayani dan melahirkan fitur-fitur terbaru sesuai kebutuhan. 

“Kemudian soal asas OpenDesa, secara umum kita merupakan gerakan sosial dan nirlaba. Tdak berorientasi pada keuntungan secara pribadi, sebab aplikasi disediakan gratis. Namun memang ada fitur premium sebagai wujud upaya penggalangan dana untuk kebutuhan kelangsungan pegembangan. Wajar ada cost untuk mengembangkan aplikasi yang lebih baik. Sehingga juga akan memberi manfaat bagi kita semua, pengguna maupun pengembang untuk terus berkarya,”papar David Kurniawan. 

Mewujudkan desa Indonesia yang tersambung secara digital ini, sebentar lagi akan bisa terwujud. Sebab saat ini, pengguna terus bertambah dengan minimal 10 desa perhari.

”OpenDesa semakin besar setiap hari dan akan bisa menghubungkan satu desa dengan desa lainnyadi nusantara. Ini akan menjadi wadah untuk saling berbagi informasi. Inilah alasan, kenapa kita harus bergabung dan bergerak bersama untuk mewujudkan kemajuan desa melalui digitalisasi. OpenDesa, terus mengembangkan kebutuhan aplikasi untuk desa ,”pungkas David Kurniawan.(*)

Titian Kuala Wujudkan Desa Masa Depan dengan Anjungan Desa Mandiri

ADM : Anjungan Desa Mandiri (ADM) Desa Titian Kuala, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, sedang memasang perangkat ADM

OpenDesa, Kalbar–Bergerak maju untuk optimalisasi pelayanan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi informasi, Desa Titian Kuala pasang Anjungan Desa Mandiri (ADM) di Kantor Desa. Pelayanan administrasi cepat dengan data akurat bisa diakses masyarakat secara mandiri. 

Meski berada di pedesaan yang jauh dari pusat ibu kota kabupaten, Desa Titian Kuala, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, menjadi salah satu desa informatif dan inovatif yang bergabung bersama Perkumpulan Desa Digital Terbuka (OpenDesa) sejak tahun 2019 silam.  

Berjarak sekitar 158 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Kapuas Hulu, Desa Titian Kuala, bertekad memanfaatkan teknologi informasi secara maksimal menggunakan Sistem Informasi Desa Terbuka (OpenSID). Sehingga sejak tahun 2019 lalu, Desa Titian Kuala, sudah melaju untuk pelayanan maksimal dan kinerja yang handal memanfaatkan teknologi informasi. 

Terlihat postingan video salah seorang pegiat OpenDesa melalui akun Facebook milik Soptian Hadi pada Group Pegiat dan Pengguna OpenSId Dua orang tengah menggotong perangkat ADM.”Alhamdulillah Datang dengan selamat. Satu-satunya anjungan layanan mandiri di Provinsi Kalbar. Colek Ai Skematik Rohman Mukomuko Forum Pengguna dan Pegiat OpenSID,”tulis Soptian Hadi, Selasa(11/1).

“Desa Titian Kuala, awal mulanya kita 2019 mengenal OpenSID lewat kawan salah seorang pegiat, ketika selama Tiga hari kami berada di Desa Miau Merah, Kecamatan Silat Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, sambil belajar dan silaturahmi. Sejak saat itu hingga pertengahan tahun 2021 masih  menggunakan fitur umum,”terang Soptian Hadi yang merupakan Kepala Desa Titian Kuala, Kamis(13/1/2022) pagi. 

Berawal dari situlah, Desa Titian Kuala menjadi pengguna OpenSID umum hingga premium. Motivasi Desa Titian Kuala untuk memajukan desa diwujudkan dengan pemanfaatan teknologi. 

“Kita ingin memajukan desa lewat pemanfaatan teknologi dan informasi. Menggunakan OpenSID,  karena ingin melakukan tata kelola data desa yang lebih baik dan efisien, ingin melayani warga lebih cepat,”ucap Kades Titian Kuala, Soptian Hadi S.H.I ini.

Merasakan kemudahan dan manfaat penggunaan fitur-fitur OpenSID, Desa Titian Kuala melakukan upgrade aplikasi menggunakan menggunakan OpenSID Premium.

“Biar lebih cepat mendapatkan fitur baru sehingga lebih cepat dimanfaatkan. Selain itu untuk membantu berkontribusi dalam pengembangan OpenSID sehingga dapat dimanfaatkan oleh ribuan desa di indonesia yang masih menggunakan opensid umum,”tambah Kades Titian Kuala. 

Saat ini, Desa Titian Kuala sudah memiliki anjungan mandiri untuk optimalisasi pelayanan publik. Sehingga warga dengan mudah bisa cetak surat secara mandiri sesuai kebutuhan administrasi masing-masing. 

“Kita menggunakan anjungan sebagai upaya untuk melakukan keterbukaan informasi publik.  Sehingga dengan adanya anjungan layanan mandiri, masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi dan mendapatkan pelayanan secara mandiri,”tutup Kades inovatif ini.(*)