Year: 2019

Apakah aplikasi OpenSID boleh dikembangkan secara bebas oleh pihak kedua?

OpenSID berlisensi GPL V3. Lisensi ini membolehkan siapa saja mengubah aplikasi OpenSID. Tapi perlu diperhatikan bahwa lisensi GPL V3 melekat. Yaitu, setiap ubahan OpenSID juga berlisensi GPL V3. Dengan demikian, siapapun yang menerima aplikasi ubahan teresebut, melalui cara apapun (berbayar atau tidak), berhak, tanpa perlu minta izin kepada siapapun, untuk memberikan source code aplikasi ubahan tersebut kepada siapa saja.

Seandainya aplikasi ubahan yg ingin dikembangkan adalah sistem informasi desa juga, kami menganjurkan dengan SANGAT agar bekerjasama saja dengan OpenDesa, supaya tidak membingungkan desa2 pengguna. Pengguna aplikasi ubahan akan terkunci pada versi OpenSID yg diubah dan akan selamanya tergantung pada pengembang aplikasi ubahan tersebut.

Desa pengguna akan mengalami kesulitan memanfaatkan versi baru OpenSID yg gratis dirilis setiap tgl 1, karena akan bentrok dengan perubahan yg telah dibuat di aplikasi ubahan tersebut. Desa pengguna aplikasi ubahan juga tidak akan dapat memanfaatkan dukungan komunitas pengguna OpenSID terkait fitur ubahan yg mereka gunakan.

Pihak yg menjual sistem informasi desa ubahan OpenSID ke desa, walaupun tidak menyalahi lisensi, sebenarnya bertindak tidak etis karena memperdayakan desa — dan juga menyebabkan terjadinya penggunaan dana publik yang tidak optimal.

Dengan bekerjasama dengan OpenDesa, fitur tambahan selalu dimasukkan ke rilis resmi OpenSID, sehingga desa pengguna akan mudah update ke rilis baru. Selain itu, semua desa pengguna lainnya juga akan dapat memanfaatkan fitur tambahan tersebut.

Mengapa OpenSID Gratis ?

OpenSID dikembangkan dengan prinsip terbuka yang berarti dikembangkan bersama oleh pegiat atau komunitas OpenSID. Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait lisensi OpenSID, yaitu :

  1. GRATIS dan Mudah Diperoleh.
  2. OpenSID berlisensi GPL V3, yang membolehkan pihak ketiga untuk mengubah dan juga mengkomersilkan.
  3. Tetapi setiap ubahan juga OTOMATIS berlisensi GPL V3, karena lisensi ini melekat.
  4. Kalau desa sudah terlanjur menggunakan versi ubahan yang berbayar, desa dapat mengirim script aplikasi ubahan itu ke OpenDesa, supaya fitur tambahan yang diperlukan desa dapat dimasukkan ke rilis resmi OpenSID, dengan demikian desa bisa beralih kembali ke versi OpenSID yang gratis.
  5. Perlu diingat, pihak ketiga yang menghilangkan tanda-tanda OpenSID di aplikasi ubahan mereka, telah menyalahi lisensi serta tidak MENGHARGAI upaya gotong royong komunitas untuk mengembangkan OpenSID untuk manfaat bersama.

Karena itu, mari kita perangi dan sadarkan pihak-pihak yang dengan sengaja mengubah atau memodifikasi OpenSID dan menghilangkan identitas OpenSID demi kepentingan sendiri.

Mari kita jaga marwah Aplikasi Terbuka OpenSID

Tema Web

Tema Web (Web Theme) adalah desain tampilan dan tata letak situs web anda, termasuk pengaturan widget (blok kecil yang melakukan fungsi tertentu). Desain ini tema web ini yang tampil pertama kali ketika pengunjung meramban situs anda, tentunya semakin menarik tampilannya semakin banyak kunjungan terhadap situs anda. Mengganti tema web di OpenSID akan mengubah tampilan situs Anda di front-end. Saat ini di OpenSID sudah ada tema web standar yang sudah ada ketika aplikasi OpenSID dipasang. Tema tersebut adalah tema : 

  1. Default 
  2. Hadakewa 

Disamping kedua tema di atas, ada pula tema lainnya yang merupakan tambahan dan kreasi dari rekan-rekan pegiat dan pengguna OpenSID diantaranya : 

  1. Flat 
  2. ODC 
  3. Batudaa 

Untuk menambah variasi tema web, baru-baru ini diadakan sayembara tema web yang akan berakhir sekitar tanggal 5 Mei 2019, sampai dengan artikel ini ditulis, sudah ada 3 tema yang mengikuti sayembara dimaksud yakni : 

Natra
Dibuat oleh saudara Ariandi Ryan Kahfi
Cosmos
Dibuat oleh saudara Diki Siswanto
Elenif
Dibuat oleh saudara Andi Al Rizki

Dengan banyaknya tema web ini, akan semakin memperbanyak pilihan untuk pengguna OpenSID dalam menentukan pilihan tema sesuai selera desa masing-masing. Adapun langkah-langkah untuk mengubah atau menambahkan tema baru ke dalam OpenSID, yaitu :

  1. Siapkan tema web anda, dan jadikan satu folder. Ingat juga bahwa penamaan folder tema harus mengikuti petunjuk yang diberikan oleh pembuat tema. 
  2. Copy Folder tema tersebut ke dalam folder desa/theme 
  3. Setelah itu, buka halaman Web Administrator dengan username dan password yang sudah ada. 
  4. Lakukan Migrasi DB terlebih dahulu untuk memperkenalkan tema baru kepada sistem OpenSID. 
  5. Setelah itu, pilih menu Pengaturan – Aplikasi dan pilih web_theme yang kita inginkan. 
  6. Jangan lupa pilih Simpan. 
  7. Tema web yang baru anda tambahkan, siap untuk diujicoba.

Demikian cara untuk mengganti tema OpenSID. Kalau ada pertanyaan lebih lanjut bisa anda kunjungi tutorial resmi di Github dan di Youtube.

Desa Srimulyo dan OpenSID

Tanggal 3 April 2019, tepatnya pukul 19:30 WIB, RRI (Radio Republik Indonesia) Yogyakarta menyiarkan secara langsung wawancara dengan Bapak Nurjayanto, yang merupakan Sekretaris Desa Srimulyo Kecamatan Piyungan Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Dalam wawancara tersebut Bapak Nurjayanto memaparkan prestasi-prestasi yang diraih oleh Desa Srimulyo yang sudah banyak bahkan untuk tingkat Nasional.

Salah satu pendukung dalam capaian prestasi tersebut adalah penggunaan OpenSID, yang menurut beliau sangat membantu dalam percepatan layanan kepada masyarakat dalam hal ini warga Srimulyo. Dijelaskan lebih detail lagi oleh beliau, salah satunya adalah penggunaan layanan persuratan, dimana hanya kurang lebih membutuhkan waktu sekitar 3 menit sebuah surat yang dibutuhkan warganya bisa terselesaikan berkat bantuan OpenSID.

Disamping itu dukungan dari Pemerintah Kabupaten dan Kecamatan juga turut membantu tercapainya prestasi-prestasi Desa Srimulyo.

Selamat untuk Pak Nurjayanto untuk prestasi desanya, semoga menginsppirasi desa-desa lain pengguna OpenSID di seluruh Nusantara.

Pakai OpenSID, Maju Desanya !!

Parigi Moutong Mulai Demam OpenSID

Dimulai dari ketertarikan salah satu Perangkat Desa di Pemdes Tompo, untuk membantu memudahkan dalam memberikan pelayanan kepada warga desanya, mulailah beliau mencari dan bertanya ke beberapa teman bahkan ke internet hingga akhirnya menemukan aplikasi yang gratis yaitu OpenSID. Seperti kebanyakan orang, jika belum mencoba pasti akan banyak pertanyaan dalam pikiran, “mengapa aplikasi ini gratis ?”, karena gratis banyak mengandung konotasi yang cenderung negatif.

Akan tetapi setelah sekian lama mencoba OpenSID, ternyata OpenSID tidak hanya gratis, bahkan sudah bisa memenuhi sebagian besar tugas administrasi dari Pemerintahan Desa. Dan yang terpenting, aplikasinya benar-benar bisa diandalkan.

Dengan tekad bulat akhirnya beliau bertekad untuk meng-online-kan OpenSID di desanya meskipun jangkauan sinyal seluler kembang kempis, karena itulah satu-satunya akses internet yang bisa dijangkau di desa. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan kepada seluruh Perangkat Desa atau bahkan Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong bahwa ada aplikasi yang gratis, mudah, handal dan yang terpenting didukung oleh ribuan komunitas, yang menjamin keberlangsungan aplikasi ini.

Saat ini seluruh desa di Kecamatan Taopa sudah mulai pelan-pelan belajar menggunakan OpenSID, dengan semangat baja. Kalau tidak sekarang kapan lagi ?.

Salam Satu Desa, Satu OpenSID

Penerapan SID Perlu Libatkan Berbagai Pihak

Penerapan inisiatif Sistem Informasi Desa (SID) bukan semata tanggung jawab desa. Perlu keterlibatan berbagai pihak baik dari pemerintah tingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, warga desa maupun lembaga-lembaga lain yang terkait. Keterlibatan itu diperlukan agar terjalin koordinasi yang baik.

Di tingkat desa, penerapan SID tidak hanya menjadi tanggung jawab operator saja, namun juga kerjasama dengan perangkat desa dan tentu saja ada keterlibatan dan dukungan dari warga desa. Beberapa desa telah mulai mengembangkan inisiatif itu dengan melibatkan berbagai pihak dalam melaksanakan penerapan SID. Bahkan, ada pula desa-desa yang menjalin kerjasama dengan desa-desa lain di sekitarnya dalam upayanya memperkuat kualitas pemanfaatan SID.

Meski demikian, tidak sedikit pula desa yang hanya mengandalkan pengelolaan SID pada orang-orang yang mampu mengoperasikan komputer saja terutama operatornya. Hal tersebut mengemuka dalam Pelatihan SID Tingkat Dasar di Kebumen pada 4-6 Oktober 2017 lalu di Benteng Van Der Wicjk, Kebumen, Jawa Tengah.

“Yang menjadi kendala penerapan SID di desa kami, perangkat (komputer) banyak, namun yang mau peduli dengan SID hanya sedikit. Beberapa perangkat desa justru memilih untuk tidak belajar komputer karena menghindar tugas-tugas yang nantinya diberikan oleh mereka yang mampu komputer,” ungkap Paidi, peserta dari Desa Kalibeji, Kebumen, saat sesi evaluasi penerapan SID pada pelatihan hari pertama, Rabu (4/10).

Sementara di tingkat kabupaten, keterlibatan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menjadi bagian tak terpisahkan dari inisatif SID di daerah yang mereka kelola. Mereka diharapkan dapat saling terhubung dan dapat menjalankan perannya dalam pelaksanaan penerapan inisiatif SID di daerahnya. Adapun OPD-OPD kunci yang terlibat dalam inisiatif SID antara lain: BAPPEDA, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), Dinas Sosial, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), Hubungan Masyarakat (Humas), dan sebagainya. Pelatihan SID kali ini juga melibatkan beberapa OPD di Kabupaten Kebumen sebagai pengamat.

Pelatihan SID Tingkat Dasar ini diselenggarakan oleh Formasi bekerjasama dengan CRI dan Pemkab Kebumen. Diikuti oleh 32 desa, pelatihan ini diadakan dalam 2 seri. Seri pertama dilaksanakan pada 20-22 September 2017 dengan peserta 14 desa percontohan. Sementara seri kedua dilaksanakan pada 4-6 Oktober 2017 yang diikuti oleh perwakilan dari 18 desa percontohan di Kebumen. Desa-desa tersebut dipersiapkan untuk menjadi desa percontohan bagi lebih dari 400 desa lain di Kebumen yang belum mengikuti pelatihan serupa.

Inisiatif penerapan SID di Kebumen telah dirintis sejak tahun 2014. Saat itu, ada 10 desa percontohan yang menerapkan inisiatif SID. Namun dalam perjalanannya, tidak semua desa aktif mengelola website desanya, baik yang online maupun offline. Pelatihan kali ini dilakukan salah satunya untuk menguatkan kapasitas desa-desa penerap SID. Peserta diajak belajar antara lain tentang pengelolaan data dan informasi publik dengan dukungan aplikasi SID.

Artikel ini merupakan duplikasi dari artikel asli di :
https://www.combine.or.id/article/Penerapan-SID-Perlu-Libatkan-Berbagai-Pihak__%23__17